ICITRI 2026

NusamandiriNews, Depok – Perkembangan kecerdasan buatan kini tidak lagi sebatas tentang seberapa pintar mesin memproses data. Di tangan para peneliti, Artificial Intelligence (AI) mulai diarahkan untuk menjawab persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan manusia, mulai dari kesehatan, aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, lingkungan, pertanian, hingga penanganan bencana.

Hal tersebut menjadi salah satu sorotan dalam International Conference on Information Technology Research and Innovation (ICITRI) 2026 yang diselenggarakan Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis secara hybrid, Kamis (10/9). Kegiatan berlangsung secara luring di UNM kampus Margonda, Jl Margonda Raya No 545, Pondok Cina, Beji, Depok, serta secara daring melalui Zoom langsung dari Bangladesh.

Baca juga:ICITRI 2026 Bahas Masa Depan AI

ICITRI 2026

Salah satu pembicara internasional, Prof. Celia Shahnaz dari Bangladesh University of Engineering and Technology (BUET), memaparkan perkembangan sistem kecerdasan berbasis robotika dan AI untuk menghadapi era industri keempat.

Guru besar sekaligus lulusan Ph.D. dari Concordia University, Kanada, menunjukkan bagaimana AI dapat dikembangkan bukan hanya untuk meningkatkan kemampuan teknologi, tetapi juga menghadirkan solusi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Dalam bidang kesehatan, misalnya, Prof. Celia memaparkan pengembangan sistem portabel multisensor yang dapat memperkirakan kadar glukosa darah tanpa memerlukan pengambilan darah menggunakan jarum. Teknologi AI juga dimanfaatkan untuk mendeteksi penyakit kuning atau jaundice pada bayi baru lahir melalui pemrosesan citra bagian putih mata atau sklera menggunakan sistem kamera berbiaya rendah.

“AI tidak hanya digunakan untuk membuat sistem menjadi lebih pintar, tetapi juga untuk membantu manusia menyelesaikan persoalan yang sebelumnya sulit dilakukan dengan cara konvensional,” ujar Prof. Celia dalam paparannya pada Kamis (10/9).

Pengembangan lainnya dilakukan untuk pemantauan kondisi pernapasan secara real-time. Dengan memanfaatkan sinyal detak jantung atau photoplethysmography (PPG) dan model deep learning, teknologi tersebut dapat membantu memprediksi tingkat keparahan hipoksemia dan gangguan pernapasan.

Penerapan AI berbasis citra juga dikembangkan untuk mendeteksi berbagai kondisi kesehatan, seperti kelainan tulang dan otot melalui hasil X-ray, parasit malaria, serta retinopati diabetik. Bahkan, teknologi AI turut dimanfaatkan untuk memprediksi penurunan kualitas vaksin mRNA COVID-19.

Namun, perhatian Prof. Celia tidak hanya tertuju pada sektor kesehatan. Salah satu bagian penting dari paparannya adalah pemanfaatan AI untuk menciptakan teknologi yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas.

Ia memperkenalkan pengembangan kursi roda berbasis Brain-Computer Interface (BCI) yang memungkinkan penyandang disabilitas berat mengendalikan kursi roda menggunakan sinyal otak atau EEG dan kedipan mata. Teknologi ini memperlihatkan bagaimana AI dapat membuka ruang kemandirian bagi pengguna yang memiliki keterbatasan dalam mengendalikan perangkat secara konvensional.

AI juga diterapkan pada pengembangan kaki palsu cerdas yang menggunakan sistem intent recognition untuk membaca niat pengguna dan menyesuaikan langkah berdasarkan pergerakannya. Sementara itu, layar Braille pintar berbasis deep learning dikembangkan agar tampilan teks dapat diperbarui secara real-time, sehingga membantu memperluas akses informasi bagi penyandang tunanetra dan tunarungu.

“Ketika teknologi dirancang dengan memahami kebutuhan pengguna, AI dapat menjadi alat untuk meningkatkan kualitas hidup dan memberikan akses yang sebelumnya mungkin tidak tersedia,” katanya.

Lebih jauh, Prof. Celia menunjukkan penerapan AI untuk menjawab persoalan lingkungan, industri, pertanian, dan kebencanaan. Salah satunya melalui pemanfaatan drone atau unmanned aerial vehicle (UAV) dengan sistem visi komputer untuk mendeteksi genangan air sekaligus mengidentifikasi area yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk penyebab demam berdarah.

Pada sektor pertanian, AI dikembangkan melalui konsep agrobot yang mampu melakukan penyiangan secara presisi. Teknologi tersebut diarahkan untuk menciptakan sistem pertanian yang lebih efisien, hemat biaya, sekaligus berkelanjutan di tengah meningkatnya kebutuhan pangan.

Sementara untuk kebutuhan penyelamatan, sistem kendaraan udara tak berawak Rescue Hawk dirancang untuk mendeteksi dan melacak individu yang terjebak dalam insiden kebakaran. AI juga dimanfaatkan dalam otomatisasi logistik e-commerce melalui lengan robot yang mampu mengenali, menyortir, serta mengelola barang maupun sampah industri secara otomatis.

Baca juga:Prof Yasuyuki Nogami dari Jepang Akan Hadir di ICITRI 2026 UNM, Bahas Masa Depan AI

Beragam inovasi tersebut memperlihatkan bahwa masa depan AI tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan algoritma atau kecanggihan mesin. Teknologi justru mendapatkan maknanya ketika kecerdasan tersebut mampu diterjemahkan menjadi solusi yang membuat kehidupan manusia lebih sehat, aman, inklusif, efisien, dan berkelanjutan.

Pandangan tersebut sejalan dengan tema ICITRI 2026, “Next-Generation AI for Human-Centered Innovation and Sustainable Futures”. Konferensi yang mempertemukan akademisi dan peneliti lintas negara ini menjadi ruang untuk membicarakan bagaimana generasi AI berikutnya dapat berkembang tanpa kehilangan orientasi utamanya, yakni memberikan manfaat bagi manusia dan masa depan yang berkelanjutan.