
NusamandiriNews, Depok — Himpunan Mahasiswa Manajemen (HIMMA) Universitas Nusa Mandiri (UNM) menggelar Talkshow SELARAS bertema Mental Healing Management di Lantai 2 UNM Kampus Margonda, Jl Margonda Raya, No 545, Pondok Cina, Beji, Depok, Sabtu (10/10).
Sebanyak 102 peserta dari kalangan mahasiswa, siswa, hingga pekerja umum hadir untuk mempelajari cara mengenali tanda-tanda kelelahan mental (burnout) serta pentingnya menjaga kesehatan emosional di tengah tingginya tekanan akademik dan aktivitas organisasi.
Baca juga: HIMMA UNM Gelar Talkshow SELARAS Bahas Kesehatan Mental dan Produktivitas Mahasiswa
HIMMA UNM Gelar Talkshow SELARAS
Acara ini merupakan program kerja perdana HIMMA UNM sebagai ruang edukasi bagi masyarakat. Melalui kegiatan ini, UNM sebagai Kampus Digital Bisnis berkomitmen mendukung mahasiswa agar tidak hanya unggul dalam produktivitas, tetapi juga mampu mengenali batas kemampuan diri.
Hadir sebagai narasumber, Psikolog Mahira Syafana Kuswanto, S.Psi., M.Psi., memaparkan perbedaan antara stres biasa, kelelahan mental (mental fatigue), dan burnout. Menurutnya, stres yang dibiarkan menumpuk tanpa pemulihan cukup akan berujung pada kelelahan emosional yang berkepanjangan.
“Kesehatan mental memiliki urgensi yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Penting bagi kita untuk menyadari apa yang sedang dirasakan serta dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari. Jangan menunggu hingga kondisi semakin parah baru mencari bantuan profesional,” tegas Mahira.
Baca juga:Jaga Kesehatan Mental Mahasiswa, HIMMA UNM Gelar Talkshow SELARAS
Sesi diskusi berlangsung interaktif di bawah panduan moderator Keysha Meyuna dan Abi Rizky Pradana. Para peserta aktif berkonsultasi mengenai penanganan overthinking, pemulihan trauma emosional, serta strategi menetapkan batasan diri dalam membagi waktu antara kuliah dan organisasi.
Ketua Pelaksana Talkshow SELARAS, Syauqi Ar Rayyan, berharap kegiatan ini dapat membangun kebiasaan mengelola stres yang lebih sehat di lingkungan kampus.
“Menjadi mahasiswa produktif bukan berarti harus memaksakan diri, melainkan harus mampu menjaga keseimbangan antara tanggung jawab dan pemulihan emosional,” ujarnya.







