25 Tahun Universitas Nusa Mandiri

NusamandiriNews, Jakarta – Universitas Nusa Mandiri (UNM) memperingati perjalanan 25 tahun sebagai institusi pendidikan tinggi yang terus tumbuh dan beradaptasi di tengah perubahan zaman. Momentum Dies Natalis ke-25 ini menjadi ruang refleksi atas perjalanan panjang yang telah dilalui sekaligus pengingat bahwa keberhasilan sebuah perguruan tinggi tidak dibangun dalam waktu singkat.

Perayaan Dies Natalis ke-25 UNM dihadiri oleh Ketua Yayasan Indonesia Nusa Mandiri Sigit Swasono Djauhari secara daring, dan dihadiri langsung oleh Rektor Universitas Nusa Mandiri, Prof. Dr. Ir. Dwiza Riana, serta Dekan Fakultas Teknologi Informasi (FTI), Dr. Anton, dan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Dr. Ida Zuniarti. Kegiatan ini juga diikuti oleh seluruh civitas akademika UNM yang menjadi bagian penting dari perjalanan universitas selama seperempat abad.

Baca juga:Akreditasi Unggul S3 Doktor Informatika Universitas Nusa Mandiri: Pilihan Tepat Jadi Pemimpin Riset Global dan Inovator Teknologi

25 Tahun Universitas Nusa Mandiri

Bagi Prof. Dwiza Riana, usia 25 tahun bukan sekadar angka yang menandai lamanya sebuah institusi berdiri. Dua puluh lima tahun merupakan perjalanan panjang yang diisi dengan berbagai proses, tantangan, pembelajaran, serta kerja bersama dari banyak pihak yang memiliki keyakinan terhadap masa depan UNM.

“Tentu perjalanan 25 tahun ini bukan sesuatu hal yang mudah ya, tetapi itu dibangun dengan rasa kepercayaan diri, dukungan dari semua pihak, ya, baik dari internal dosen,” ujar Prof. Dwiza dalam keterangan rilis yang diterima pada Selasa (11/8).

Menurutnya perjalanan panjang sebuah perguruan tinggi tidak mungkin bertumpu pada satu pihak saja. Keberlangsungan dan perkembangan UNM merupakan hasil dari kolaborasi antara dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, mitra, serta seluruh pihak yang terus memberikan dukungan terhadap perkembangan institusi.

Dibalik berbagai pencapaian dan proses panjang tersebut, Prof. Dwiza menilai terdapat satu hal yang menjadi fondasi utama perjalanan UNM. Bukan sekadar target, angka, maupun pencapaian institusi, melainkan niat untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

“Tapi saya percaya bahwa yang melandasi itu semua adalah niat baik untuk bermanfaat bagi bangsa dan negara,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi refleksi penting dalam peringatan Dies Natalis ke-25 UNM. Sebab, perjalanan pendidikan tinggi pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa lama sebuah institusi mampu bertahan, tetapi seberapa besar keberadaannya mampu menghadirkan dampak bagi lingkungan dan masyarakat.

Selama 25 tahun, UNM terus berupaya menempatkan pendidikan, teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia sebagai bagian dari kontribusinya menghadapi perubahan dunia yang semakin dinamis. Kehadiran FTI dan FEB juga menjadi bagian dari upaya UNM dalam menjawab kebutuhan masyarakat dan industri melalui pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman.

Momentum seperempat abad ini sekaligus menjadi titik untuk melihat kembali perjalanan yang telah dilalui. Ada banyak tantangan yang berhasil dilewati, ada berbagai perubahan yang menuntut kemampuan beradaptasi, dan ada kerja keras banyak orang yang mungkin tidak selalu terlihat, tetapi menjadi fondasi bagi pertumbuhan UNM.

Baca juga:Prodi Sains Data UNM Raih Akreditasi Unggul, Siapkan Talenta Data Masa Depan

Kini memasuki usia 25 tahun, UNM tidak berhenti pada perayaan. Dies Natalis menjadi pengingat bahwa perjalanan pendidikan tinggi masih panjang dan tantangan ke depan akan semakin kompleks. Dunia pendidikan harus terus bergerak mengikuti perkembangan teknologi, kebutuhan industri, serta perubahan karakter generasi yang akan menjadi bagian dari masa depan bangsa.

Dengan semangat kebersamaan seluruh civitas akademika, UNM menjadikan usia 25 tahun sebagai momentum untuk memperkuat komitmen dan melangkah ke masa depan. Sebab, seperempat abad bukanlah garis akhir, melainkan sebuah babak baru untuk terus tumbuh, berinovasi, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi bangsa dan negara.