NusamandiriNews, Jakarta – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin melesat dan membawa perubahan besar di berbagai sektor industri. Memasuki tahun 2026, AI tidak lagi sekadar teknologi pendukung, melainkan telah menjadi tulang punggung dalam operasional bisnis dan dunia kerja.
Mulai dari sektor perbankan, kesehatan, hingga industri kreatif, AI dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi, mengolah data dalam skala besar, hingga membantu pengambilan keputusan strategis. Dampaknya, sejumlah pekerjaan yang bersifat repetitif mulai tergantikan oleh otomatisasi.
AI Gantikan Banyak Pekerjaan di 2026
Kepala Kampus Universitas Nusa Mandiri (UNM) Kampus Jatiwaringin, Bryan Givan, menegaskan bahwa fenomena ini menjadi tantangan serius bagi generasi muda, khususnya mahasiswa.
“AI bukan lagi sesuatu yang akan datang, tapi sudah terjadi sekarang. Mahasiswa harus mempersiapkan diri agar tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga menjadi bagian dari perkembangan teknologi tersebut,” ujar Bryan, Kamis (23/4).
Sejumlah laporan global menunjukkan bahwa AI berpotensi menggantikan beberapa jenis pekerjaan, namun di sisi lain juga membuka peluang baru. Profesi seperti AI engineer, data analyst, hingga digital strategist kini semakin dibutuhkan.
Hal ini menegaskan bahwa tantangan dan peluang akan berjalan beriringan. Individu yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi akan memiliki keunggulan kompetitif di dunia kerja.
Namun, kesiapan menghadapi era AI tidak hanya bergantung pada kemampuan teknis semata. Mahasiswa juga dituntut memiliki soft skill seperti berpikir kritis, kreativitas, serta kemampuan komunikasi yang baik.
Bryan Givan menekankan pentingnya keseimbangan antara hard skill dan soft skill.
“Teknologi bisa menggantikan pekerjaan tertentu, tapi tidak bisa menggantikan kreativitas dan cara berpikir manusia. Di sinilah peran penting mahasiswa untuk terus mengembangkan diri,” jelasnya.
Selain itu, kemampuan belajar sepanjang hayat (lifelong learning) menjadi kunci utama. Dunia teknologi berkembang sangat cepat, sehingga mahasiswa harus terus mengikuti tren dan inovasi terbaru agar tidak tertinggal.
Di Indonesia sendiri, adopsi AI terus meningkat. Banyak perusahaan mulai mengintegrasikan teknologi ini ke dalam berbagai lini bisnis. Kondisi ini membuka peluang besar bagi lulusan yang memiliki kompetensi di bidang AI dan teknologi digital.
Sebagai Kampus Digital Bisnis, UNM berkomitmen menghadirkan sistem pembelajaran yang adaptif terhadap kebutuhan industri. Kampus ini tidak hanya membekali mahasiswa dengan teori, tetapi juga pengalaman praktis melalui proyek nyata dan kolaborasi dengan dunia industri. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menjadi talenta digital yang siap bersaing di era transformasi teknologi.
Bryan juga menambahkan pentingnya memiliki growth mindset dalam menghadapi perubahan.
“Yang terpenting bukan hanya skill yang dimiliki hari ini, tetapi kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi. Itulah yang menentukan siapa yang bisa bertahan di masa depan,” tambahnya.
Dengan semakin luasnya penggunaan AI, transformasi dunia kerja tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, mahasiswa perlu mempersiapkan diri sejak dini agar mampu memanfaatkan peluang yang ada. Pada akhirnya, AI bukanlah ancaman jika disikapi dengan tepat. Justru sebaliknya, teknologi ini menjadi peluang besar bagi generasi muda untuk berkembang dan meraih kesuksesan di era digital.









