
NusamandiriNews, Depok – Memasuki dunia kerja, terasa seperti melempar surat ke dalam ruang hampa. Banyak lulusan perguruan tinggi mengirimkan ratusan Curriculum Vitae (CV) tanpa menerima satu pun panggilan wawancara.
Di sisi lain, divisi Human Resources (HR) kewalahan menyeleksi banyaknya kandidat yang di atas kertas terlihat seragam. Kesenjangan inilah yang ditangkap oleh Arlen Setiawan, lulusan Universitas Nusa Mandiri (UNM) yang seorang mantan top management dengan pengalaman belasan tahun di dunia korporat. Kini mendedikasikan dirinya untuk mengubah cara pencari kerja dan perusahaan saling menemukan.
Baca juga: Gagal Masuk PTN, Alwi Bangkit dan Sukses Berkarier di Lazada
Bisnis Bukan Sekadar Cari Untung
Perjalanan Arlen bermula dari sebuah kebutuhan pragmatis. Memulai kariernya dari bawah, ia menyadari bahwa ijazah strata satu menjadi kunci untuk membuka pintu promosi di perusahaan tempatnya bekerja.
Pada tahun 2010, ia memutuskan untuk melanjutkan studinya di Universitas Nusa Mandiri (UNM) mengambil jurusan Sistem Informasi. Keputusan mengambil jurusan tersebut nyatanya tidak hanya mengakselerasi karier korporatnya, tetapi juga meletakkan fondasi logika sistematis yang ia gunakan untuk membangun berbagai inovasi digital.
Setelah 11 tahun menduduki posisi top manajemen di sebuah perusahaan IT yang bergerak di bidang Human Resources, Arlen menyadari satu masalah mendasar dalam proses rekrutmen yakni perusahaan tidak lagi sekadar mencari kandidat yang memenuhi syarat administratif, melainkan mereka yang siap berkontribusi.
Menjawab keresahan tersebut, ia mendirikan Arlen Growth Consulting dan meluncurkan platform cocokkerja.id. Arlen sekarang sebagai Founder dan CEO PT Arlend Growth Consulting. Platform ini dirancang untuk mengubah paradigma rekrutmen dari requirement fit (kecocokan syarat) menjadi contribution fit (kecocokan kontribusi), membantu perusahaan menyortir ratusan CV secara otomatis dan akurat berdasarkan rekam jejak kontribusi kandidat.
Bagi mahasiswa atau lulusan baru yang belum memiliki pengalaman kerja, Arlen menekankan bahwa kontribusi tidak selalu harus berasal dari magang atau pekerjaan formal.
“Pengalaman aktif di himpunan mahasiswa, organisasi lingkungan, atau bahkan sekadar mengerjakan proyek wawancara tugas kuliah adalah bentuk kontribusi yang sah, asalkan ditulis dengan strategi yang tepat,” kata Arlen, saat diwawancarai media.
Melalui platformnya, Arlen memperkenalkan framework EUCI, singkatan dari Eksekutor, Unifikator, Komunikator, dan Inovator. Kerangka kerja ini membantu pencari kerja memetakan dan membahasakan apa peran spesifik mereka dalam sebuah kegiatan, sehingga HR dapat dengan mudah melihat potensi nyata mereka, melampaui rentang usia atau syarat pengalaman minimum kerja.
Inovasi Arlen tidak berhenti pada urusan rekrutmen. Berbekal latar belakang ilmu komputernya, ia memandang evolusi teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI) dengan kacamata yang berbeda. Saat banyak orang berlomba-lomba menghafal prompt untuk menjadi operator AI, Arlen mendorong generasi muda untuk naik kelas menjadi AI Orkestrator.
“Artinya, seseorang harus terlebih dahulu memiliki keahlian dan pemahaman domain yang kuat, lalu menjadikan AI sebagai alat yang diorkestrasi untuk mengeksekusi ide, bukan sekadar menyerahkan seluruh kendali pada mesin,” ujarnya.
Baca juga:Perjuangan Alwi Al Hadad, Alumni UNM Kini Jadi Perwira TNI
Melalui pendekatan ini, ia mampu membangun sistem kompleks yang siap pakai hanya dalam hitungan jam.
Pada akhirnya, seluruh inovasi dan pandangan karier Arlen bermuara pada satu filosofi inti yakni bisnis adalah tentang menciptakan nilai (value). Ia menolak pandangan sempit bahwa bisnis selalu identik dengan modal besar dan transaksi jual-beli di luar korporat.
Membangun karier dan menjual keahlian kepada atasan demi sebuah promosi pun pada hakikatnya adalah praktik bisnis. Baginya, baik saat berdagang kecil-kecilan di masa SD maupun saat merancang sistem AI mutakhir hari ini, esensi bisnis tetap sama yaitu bagaimana kita bisa menghasilkan sesuatu yang memberikan manfaat dan dampak nyata bagi orang lain.
Pesan Arlen untuk para mahasiswa, “Tidak peduli dari kampus mana Anda berasal atau apa jurusan yang Anda pelajari, ketika Anda lulus, pastikan Anda sudah tahu value apa yang ingin Anda ciptakan untuk dunia,” pesannya.







