NusamandiriNews–Nuzulul Quran bukan sekadar peringatan turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW. Ia adalah momentum lahirnya peradaban berbasis ilmu. Wahyu pertama, Iqra’ bacalah menjadi pesan fundamental bahwa perubahan selalu dimulai dari membaca. Pertanyaannya, apakah semangat itu masih hidup di kampus hari ini?
Sebagai pustakawan di Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis, saya melihat tantangan literasi di era digital jauh lebih kompleks. Membaca tidak lagi terbatas pada lembaran buku. Mahasiswa kini berhadapan dengan banjir informasi: artikel daring, jurnal elektronik, data statistik, tren industri, hingga konten media sosial.
Baca juga:Manajemen Kunci Karier Digital
Iqra’ di Era Digital
Namun membaca di era digital bukan soal kuantitas informasi, melainkan kualitas pemahaman.
Mahasiswa harus mampu membaca data, menafsirkan angka, memilah informasi yang valid, serta mengubah pengetahuan menjadi solusi kreatif. Literasi bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga kecakapan berpikir kritis. Di dunia bisnis digital yang dinamis dan kompetitif, kemampuan inilah yang menjadi pembeda.
Perpustakaan memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem tersebut. Kami tidak lagi sekadar menyediakan rak buku. Perpustakaan hadir melalui koleksi cetak dan digital, akses e-journal bereputasi, repository karya ilmiah, hingga layanan literasi informasi yang membimbing mahasiswa memahami cara menelusur, mengevaluasi, dan memanfaatkan sumber pengetahuan secara tepat.
Perpustakaan adalah ruang bertumbuhnya gagasan. Momentum Nuzulul Quran seharusnya menjadi refleksi bersama bagi seluruh sivitas akademika. Apakah kita sudah menjadikan membaca sebagai budaya, bukan sekadar kewajiban akademik? Apakah riset dan inovasi benar-benar tumbuh dari tradisi literasi yang kuat?
Baca juga:Sains Data vs Informatika, Bedanya di Mana?
Sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri menempatkan literasi, riset, dan inovasi sebagai pilar utama dalam membentuk lulusan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Tanpa budaya membaca yang kuat, transformasi digital hanya akan menjadi slogan.
Semangat Iqra’ hari ini berarti membaca lebih luas dan lebih dalam: membaca perubahan, membaca peluang, dan membaca tantangan masa depan. Karena pada akhirnya, kampus yang besar bukan hanya yang memiliki teknologi canggih, tetapi yang memiliki tradisi intelektual yang hidup.
Penulis: Oleh: Dio Andre Nusa, Pustakawan Universitas Nusa Mandiri, Universitas Nusa Mandiri










