Menu

Mode Gelap
Universitas Nusa Mandiri Raih Klasterisasi Utama: Pengakuan atas Kinerja Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UNM Beri Penghargaan Inovasi Pada Mahasiswa dan Alumni Berprestasi UNM Terima Penghargaan Apresiasi Penggabungan Perguruan Tinggi Tahun 2021 Manfaat Teknologi Untuk Ketahui Kepribadian dan Kecerdasan Pada Anak Sarah, Mahasiswa UNM yang Aktif Kuliah Sambil Berbisnis UNM Gelar Pembekalan Internal Program Kampus Mengajar Angkatan 3 Tahun 2022

Opini

Jangan Telan Mentah! Lawan Infodemi dengan Literasi Digital Sekarang

badge-check


					Jangan Telan Mentah! Lawan Infodemi dengan Literasi Digital Sekarang Perbesar

NusamandiriNews–Di era konektivitas tanpa batas, konflik global tidak lagi hanya terjadi di medan fisik, tetapi juga di ruang digital. Apa yang berlangsung di Timur Tengah, misalnya, kini hadir dalam genggaman melalui media sosial, portal berita, hingga platform video. Namun, yang kita hadapi bukan sekadar arus informasi, melainkan infodemic: banjir informasi yang bercampur antara fakta, opini, propaganda, dan disinformasi.

Situasi ini berbahaya. Informasi yang tidak terverifikasi dapat membentuk persepsi publik secara keliru, memicu emosi, bahkan memperdalam polarisasi. Algoritma media sosial memperparah kondisi ini dengan mengutamakan konten sensasional dan provokatif. Akibatnya, publik kerap terjebak dalam narasi yang menyederhanakan konflik kompleks menjadi hitam-putih.

Baca juga:Gelar Tak Lagi Cukup, Literasi Data Jadi Penentu Masa Depan

Lawan Infodemi dengan Literasi Digital Sekarang

Di sinilah literasi digital menjadi kebutuhan mendesak, bukan lagi sekadar pelengkap. Literasi digital bukan hanya soal kemampuan mengakses informasi, tetapi juga kecakapan dalam memverifikasi, memahami konteks, serta berpikir kritis terhadap setiap konten yang dikonsumsi.

Sebagai Pustakawan di Universitas Nusa Mandiri (UNM) yang dikenal sebagai Kampus Digital Bisnis saya melihat bahwa tantangan terbesar masyarakat hari ini bukan kekurangan informasi, melainkan kelebihan informasi tanpa kemampuan menyaringnya. Banyak pengguna internet belum terbiasa melakukan cek fakta atau memahami bagaimana informasi diproduksi dan disebarluaskan.

Perpustakaan, dalam konteks ini, memiliki peran strategis yang kerap diabaikan. Ia bukan lagi sekadar tempat penyimpanan buku, melainkan pusat literasi informasi. Perpustakaan berfungsi sebagai kurator pengetahuan menyediakan sumber yang telah terverifikasi, mulai dari buku, jurnal ilmiah, hingga basis data digital yang kredibel.

Lebih dari itu, pustakawan memiliki kompetensi dalam menelusuri dan mengevaluasi informasi. Kami tidak hanya menyediakan akses, tetapi juga membimbing pengguna untuk menemukan sumber yang tepat dan relevan. Di tengah infodemi, peran ini menjadi sangat krusial.

Perpustakaan juga dapat menjadi ruang edukasi literasi digital. Program seperti pelatihan cek fakta, pemahaman bias media, hingga cara membaca informasi secara kritis perlu diperluas. Dalam konteks konflik global, masyarakat perlu disuguhi berbagai perspektif agar tidak terjebak dalam narasi tunggal yang menyesatkan.

Dampak infodemi tidak bisa dianggap remeh. Informasi yang salah dapat memicu kepanikan, kebencian, bahkan konflik sosial di masyarakat yang sejatinya tidak terlibat langsung. Tanpa literasi digital yang memadai, publik mudah terombang-ambing oleh arus informasi yang tidak bertanggung jawab.

Namun, tantangan tetap ada. Tidak semua perpustakaan memiliki sumber daya yang memadai, baik dari sisi teknologi maupun tenaga profesional. Selain itu, persepsi lama yang menganggap perpustakaan sebagai institusi konvensional juga menjadi hambatan.

Baca juga: Jangan Jadi Tentara Hoaks Bangun Literasi Digital Sekarang

Karena itu, transformasi menjadi keharusan. Perpustakaan harus hadir di ruang digital melalui media sosial, layanan daring, hingga kolaborasi dengan berbagai pihak. Dukungan kebijakan dari pemerintah juga menjadi faktor penting dalam memperkuat ekosistem literasi digital nasional.

Pada akhirnya, menghadapi infodemi tidak cukup hanya dengan akses informasi. Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk memahami, menilai, dan menggunakan informasi secara bijak. Di sinilah perpustakaan memainkan peran vital.

Jika kita ingin membangun masyarakat yang cerdas dan tangguh di era digital, maka literasi digital harus menjadi gerakan bersama. Jangan lagi menjadi konsumen pasif informasi. Saatnya kita berpikir kritis, memverifikasi, dan bertanggung jawab atas setiap informasi yang kita sebarkan.

Penulis: Ricky Sediawan, Pustakawan Universitas Nusa Mandiri (UNM)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Main Media Sosial Saja Tidak Cukup Saatnya Jadi Ahli Digital

22 Mei 2026 - 10:44 WIB

Saatnya Jadi Ahli Digital

Salah Pilih Font Bisnis Bisa Kehilangan Kepercayaan Konsumen

22 Mei 2026 - 10:29 WIB

Kepercayaan Konsumen

Perpustakaan Jangan Lagi Jadi Gudang Buku

21 Mei 2026 - 11:42 WIB

Perpustakaan

Doktor Bukan Gelar Akhir, Saatnya Kampus Cetak Inovator AI

18 Mei 2026 - 10:28 WIB

Saatnya Kampus Cetak Inovator AI

AI Bukan Ancaman, Saatnya Mahasiswa Informatika Jadi Pencipta Inovasi

18 Mei 2026 - 09:36 WIB

Mahasiswa Informatika Jadi Pencipta Inovasi
Sedang Tren di Opini
Numa Chat
AI Agent yang siap menjawab pertanyaan kamu...
🎓

Program Studi

Informasi tentang jurusan dan program studi

💲

Beasiswa

Info beasiswa dan cara mendaftar

🧾

Biaya Kuliah

Informasi biaya dan metode pembayaran

📄

Pendaftaran

Cara daftar dan syarat pendaftaran

🏢

Fasilitas Kampus

Informasi fasilitas dan lingkungan kampus