NusamandiriNews–Transformasi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk cara mahasiswa belajar, berinteraksi, dan membangun kompetensi. Aktivitas akademik kini sangat bergantung pada teknologi mulai dari pencarian referensi, pengumpulan tugas, hingga kolaborasi pembelajaran yang dilakukan secara daring. Namun di balik kedekatan tersebut, muncul pertanyaan mendasar yakni apakah mahasiswa benar-benar telah cakap digital, atau hanya terbiasa menggunakan teknologi secara pasif?
Pertanyaan ini penting diajukan karena menjadi pengguna teknologi tidak otomatis berarti memahami teknologi. Banyak mahasiswa aktif menggunakan media sosial, aplikasi pembelajaran, dan berbagai platform digital, tetapi sebagian besar masih berada pada level konsumsi. Mereka mengakses informasi dengan cepat, tetapi belum tentu mampu memverifikasi kebenarannya. Mereka mahir menggunakan aplikasi, tetapi belum tentu memahami bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan karya dan solusi.
Baca juga:Krisis Energi Mengancam, Lawan dengan Literasi Digital Sekarang!
Mahasiswa Harus Jadi Penggerak Digital
Di era digital, kondisi tersebut tidak lagi cukup. Mahasiswa dituntut melampaui posisi sebagai pengguna menuju pencipta nilai digital. Kecakapan digital bukan sekadar kemampuan teknis mengoperasikan perangkat atau aplikasi. Ia mencakup kemampuan berpikir kritis terhadap informasi, memahami etika penggunaan teknologi, menjaga keamanan digital, serta memanfaatkan teknologi untuk produktivitas dan inovasi. Dengan kata lain, kecakapan digital merupakan kombinasi antara keterampilan teknis, kecerdasan informasi, dan tanggung jawab etis.
Tantangan terbesar hari ini adalah banyaknya mahasiswa yang merasa “sudah digital” hanya karena aktif di internet. Padahal, aktivitas seperti scrolling media sosial berjam-jam, menonton konten tanpa refleksi, atau membagikan informasi tanpa verifikasi tidak mencerminkan kecakapan digital. Itu hanya menunjukkan kedekatan dengan teknologi, bukan penguasaan terhadapnya.
Sebaliknya, mahasiswa yang cakap digital adalah mereka yang mampu menggunakan teknologi untuk menciptakan dampak. Mereka menulis gagasan di platform digital, membuat konten edukatif, mengembangkan aplikasi, membangun personal branding profesional, hingga menciptakan inovasi berbasis teknologi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Dalam konteks ini, literasi digital menjadi fondasi utama. Mahasiswa harus mampu membedakan fakta dan opini, mengenali bias informasi, memahami konteks sebuah narasi, serta melakukan verifikasi terhadap sumber yang mereka gunakan. Kemampuan ini menjadi sangat penting di tengah maraknya hoaks, disinformasi, dan polarisasi opini di ruang digital.
Selain itu, mahasiswa juga perlu memahami bahwa jejak digital memiliki konsekuensi jangka panjang. Apa yang diunggah hari ini dapat memengaruhi reputasi akademik dan profesional di masa depan. Karena itu, etika bermedia harus menjadi bagian tak terpisahkan dari kecakapan digital.
Di sisi lain, kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) menghadirkan peluang sekaligus tantangan baru. AI dapat membantu proses belajar menjadi lebih efisien, tetapi jika digunakan tanpa kesadaran kritis, teknologi ini berisiko melemahkan kemampuan berpikir mandiri mahasiswa. Ketergantungan pada teknologi tanpa pemahaman justru dapat menurunkan kreativitas, analisis, dan kemampuan problem solving.
Karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis dalam membentuk mahasiswa yang benar-benar cakap digital. Kampus tidak cukup hanya menyediakan fasilitas teknologi, tetapi harus menghadirkan ekosistem pembelajaran yang mendorong mahasiswa berpikir kritis, berkarya, dan berinovasi melalui teknologi.
Baca juga:Jangan Telan Mentah! Lawan Infodemi dengan Literasi Digital Sekarang
Sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri (UNM) terus mendorong lahirnya mahasiswa yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara produktif dan bertanggung jawab. Integrasi literasi digital dalam pembelajaran, penguatan budaya akademik berbasis teknologi, serta pengembangan kompetensi digital menjadi bagian dari upaya tersebut.
Pada akhirnya, masa depan digital tidak akan dimenangkan oleh mereka yang sekadar paling sering menggunakan teknologi. Masa depan akan dimiliki oleh mereka yang mampu memahami, mengendalikan, dan menciptakan nilai melalui teknologi. Karena itu, mahasiswa harus berhenti puas menjadi user pasif. Saatnya naik level menjadi penggerak digital, generasi yang tidak hanya hadir di ruang digital, tetapi mampu memberi arah, menciptakan inovasi, dan membentuk masa depan melalui teknologi.
Penulis: Ricky Sediawan, Pustakawan Universitas Nusa Mandiri (UNM)









