NusamandiriNews–Perkembangan Artificial Intelligence (AI) hari ini bergerak jauh lebih cepat dibanding kesiapan sebagian besar masyarakat dalam memahaminya. Teknologi yang dulu hanya hadir dalam film fiksi ilmiah kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. AI digunakan dalam bisnis, pendidikan, kesehatan, industri kreatif, hingga pelayanan publik. Pertanyaannya, apakah generasi muda hanya akan menjadi pengguna teknologi, atau justru menjadi pencipta solusi berbasis AI?
Sebagai Ketua Program Studi Informatika (S1) Universitas Nusa Mandiri, saya memandang bahwa AI bukan ancaman bagi mahasiswa, melainkan peluang besar yang harus dimanfaatkan. Dunia kerja digital saat ini membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan teknis dasar. Industri membutuhkan talenta yang mampu berpikir kreatif, memahami persoalan nyata, lalu menerjemahkannya menjadi solusi teknologi yang relevan dan berdampak.
Baca juga:AI Sudah Kuasai Industri Mahasiswa Informatika UNM Jangan Cuma Jadi Penonton
Mahasiswa Informatika Jadi Pencipta Inovasi
Inilah alasan mengapa pendidikan informatika tidak bisa lagi hanya berfokus pada teori pemrograman. Mahasiswa harus dibekali kemampuan problem solving, logika berpikir, kreativitas, serta pengalaman praktik yang selaras dengan kebutuhan industri digital. Penguasaan Artificial Intelligence, machine learning, dan data analytics akan menjadi kompetensi penting dalam menghadapi masa depan.
Melalui seminar “Membangun Aplikasi Cerdas: Implementasi AI untuk Transformasi Digital Bisnis” yang diselenggarakan Program Studi Informatika Universitas Nusa Mandiri di Aula UNM Margonda, kami ingin membuka cara pandang mahasiswa terhadap perkembangan teknologi AI. Kehadiran praktisi AI dan data analytics, Arief Rama Syarif, menjadi jembatan penting agar mahasiswa memahami bagaimana AI benar-benar diterapkan di dunia industri.
Antusiasme mahasiswa dalam seminar tersebut menunjukkan bahwa generasi muda sebenarnya memiliki ketertarikan besar terhadap teknologi masa depan. Mereka ingin belajar, bereksperimen, dan menciptakan inovasi. Tugas perguruan tinggi adalah menghadirkan ekosistem pembelajaran yang mendukung lahirnya talenta digital tersebut.
Sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri (UNM) terus berupaya menghadirkan pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan industri. Mahasiswa tidak hanya diajak memahami konsep AI secara teoritis, tetapi juga didorong untuk membangun proyek nyata berbasis kecerdasan buatan. Pengalaman praktik seperti seminar, workshop, riset, hingga kolaborasi dengan praktisi industri menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.
Saya melihat masih banyak mahasiswa yang memandang AI sebatas alat otomatisasi. Padahal, AI jauh lebih besar dari itu. Teknologi ini mampu membantu manusia meningkatkan efisiensi, mempercepat analisis data, memprediksi kebutuhan pasar, hingga menciptakan inovasi layanan yang lebih personal. Di sektor bisnis, AI bahkan menjadi faktor penentu daya saing perusahaan.
Karena itu, mahasiswa informatika perlu memiliki keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Mereka harus mulai aktif membangun portofolio digital, mengikuti kompetisi teknologi, terlibat dalam proyek kolaboratif, dan terus mengembangkan kemampuan adaptasi terhadap perubahan teknologi yang sangat cepat.
Di era transformasi digital, perusahaan tidak hanya mencari programmer yang bisa menulis kode. Dunia industri membutuhkan individu yang mampu memahami kebutuhan bisnis, membaca tren teknologi, dan menciptakan solusi inovatif berbasis data serta AI. Kompetensi inilah yang harus mulai dipersiapkan sejak bangku kuliah.
Baca juga:Kampus Tak Butuh Dosen Biasa, UNM Dorong Akademisi Naik Kelas
Saya percaya, masa depan bukan dimiliki oleh mereka yang takut pada AI, tetapi oleh mereka yang mampu memahami dan mengendalikannya secara bijak. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar untuk mencetak generasi yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap menjadi inovator digital.
Melalui semangat Universitas Nusa Mandiri sebagai Kampus Digital Bisnis, kami ingin melahirkan lulusan informatika yang unggul, adaptif, inovatif, dan mampu bersaing di era Artificial Intelligence global. Sebab pada akhirnya, AI hanyalah alat. Masa depan tetap ditentukan oleh manusia yang mampu berpikir, berinovasi, dan menciptakan perubahan.
Penulis: Arfhan Prasetyo, Ketua Program Studi Informatika (S1) Universitas Nusa Mandiri










