NusamandiriNews, Jakarta — Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis mengajak mahasiswa program magister untuk mengubah cara pandang terhadap proses akademik, khususnya dalam penyusunan proposal tesis dan pelaksanaan seminar proposal (sempro).
Selama ini, tidak sedikit mahasiswa yang menganggap proposal tesis sebagai beban administratif dan seminar proposal sebagai momen yang menegangkan. Padahal, kedua proses tersebut justru menjadi fondasi penting dalam memastikan kualitas penelitian yang dilakukan.
Ini Cara Mahasiswa Magister UNM Sukses Tembus Tesis
Proposal tesis berperan sebagai peta ilmiah yang menuntun arah penelitian. Di dalamnya termuat tujuan penelitian, urgensi topik, landasan teori, hingga metode yang akan digunakan. Tanpa proposal yang matang, mahasiswa berisiko mengalami kesalahan dalam pengambilan data, analisis, hingga kesimpulan.
Sejalan dengan itu, seminar proposal hadir sebagai forum uji kelayakan yang konstruktif. Dalam forum ini, mahasiswa mempresentasikan rencana penelitiannya di hadapan dosen pembimbing dan evaluator untuk mendapatkan masukan kritis, perbaikan, serta validasi awal sebelum penelitian dilanjutkan.
Ketua Program Studi Magister Informatika Universitas Nusa Mandiri, Prof. Dr. Agus Subekti, menegaskan bahwa proposal dan seminar proposal bukanlah hambatan, melainkan bagian penting dari proses ilmiah.
“Proposal tesis adalah peta yang memastikan penelitian berjalan terarah, sementara seminar proposal adalah ruang evaluasi yang membantu mahasiswa menyempurnakan rencana risetnya sejak awal. Ini bukan proses yang harus ditakuti, tetapi dimanfaatkan,” ujarnya dalam rilis yang diterima, pada Jumat (17/4).
Ia juga menambahkan bahwa peran dosen pembimbing sangat krusial dalam mendampingi mahasiswa, mulai dari tahap penyusunan proposal hingga revisi pascaseminar. Dengan bimbingan yang tepat, mahasiswa dapat memilah masukan evaluator dan menjaga arah penelitian tetap fokus.
Baca juga:Tak Wajib Tesis, Magister Informatika UNM Bisa Lulus Lewat Publikasi dan Inovasi
Lebih lanjut, Prof. Agus menjelaskan bahwa seminar proposal justru menjadi langkah preventif untuk menghindari kesalahan besar dalam penelitian.
“Kesalahan metodologi yang ditemukan saat seminar masih bisa diperbaiki di atas kertas. Namun jika baru disadari setelah data terkumpul, maka risikonya jauh lebih besar, bahkan bisa mengulang penelitian dari awal,” tambahnya.
Melalui pendekatan ini, UNM terus mendorong mahasiswa untuk lebih siap, kritis, dan percaya diri dalam menjalani proses akademik. Dengan persiapan yang matang dan pendampingan yang optimal, proposal dan seminar proposal akan menjadi “sahabat” yang memperkuat kualitas tesis.









