NusamandiriNews, Jakarta–Di era digital, kemampuan akademik saja tidak lagi cukup untuk membuat seseorang menonjol di dunia kerja. Perusahaan kini semakin memperhatikan personal branding kandidat, mulai dari aktivitas di media sosial, portofolio karya, hingga kontribusi dalam komunitas profesional.
Personal branding merupakan cara seseorang membangun citra diri yang positif dan profesional di hadapan publik. Bagi mahasiswa, membangun personal branding sejak masa kuliah menjadi langkah strategis untuk membuka peluang karier yang lebih luas di masa depan.
Baca juga: Bukan Sekadar CV, Personal Branding Jadi Kunci Karier Mahasiswa di Era Digital
90% Recruiter Cek Jejak Digital
Fenomena ini semakin relevan seiring meningkatnya penggunaan platform profesional seperti LinkedIn. Sejumlah laporan industri menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen recruiter memanfaatkan platform digital untuk mencari kandidat potensial, bahkan sebelum proses rekrutmen resmi dimulai. Artinya, jejak digital kini menjadi salah satu faktor penting dalam penilaian calon karyawan.
Menurut Bryan Givan, Kepala Kampus Universitas Nusa Mandiri (UNM) Kampus Jatiwaringin, mahasiswa perlu memahami pentingnya membangun reputasi profesional sejak dini.
“Mahasiswa tidak hanya fokus pada nilai akademik, tetapi juga harus membangun identitas profesional. Personal branding yang kuat akan membuat seseorang dikenal melalui kompetensi dan kontribusinya,” ujarnya, Senin (20/4).
Ia menegaskan bahwa personal branding bukan sekadar aktif di media sosial, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menunjukkan nilai dan keahliannya.
“Mahasiswa bisa mulai dengan membagikan insight, pengalaman belajar, hasil proyek, hingga pandangan terhadap perkembangan industri yang diminati,” jelasnya.
Dalam dunia bisnis dan industri kreatif, personal branding kerap menjadi pintu masuk berbagai peluang, mulai dari tawaran kerja, kolaborasi proyek, hingga kesempatan berbicara di forum profesional.
Sebagai Kampus Digital Bisnis, UNM turut mendorong mahasiswa mengembangkan kemampuan tersebut melalui pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan industri. Program Studi Manajemen membekali mahasiswa dengan strategi pemasaran, komunikasi bisnis, dan digital marketing yang mendukung pembentukan citra profesional.
Sementara itu, mahasiswa Program Studi Informatika dan Sains Data didorong untuk membangun portofolio proyek teknologi sebagai bagian dari personal branding mereka di dunia profesional.
Bryan menambahkan, mahasiswa yang mampu memadukan kemampuan akademik dengan personal branding yang kuat akan memiliki keunggulan kompetitif.
Baca juga:Bukan Cuma IPK, Personal Branding Kini Jadi Senjata Wajib Mahasiswa di Era Digital 2026
“Di era digital, reputasi dapat dibangun melalui karya, pemikiran, dan kontribusi yang dibagikan secara konsisten. Ini menjadi nilai tambah besar bagi mahasiswa saat memasuki dunia kerja,” tambahnya.
Sebagai institusi yang fokus pada pengembangan talenta digital, Universitas Nusa Mandiri terus berkomitmen mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki identitas profesional yang kuat.
UNM dikenal sebagai Kampus Digital Bisnis yang berkomitmen mencetak generasi muda adaptif, kompetitif, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja modern di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Dengan membangun personal branding sejak kuliah, mahasiswa tidak hanya menjadi lulusan dengan gelar akademik, tetapi juga memiliki nilai tambah yang mampu membuka lebih banyak peluang karier di masa depan.









