NusamandiriNews, Jakarta – Memasuki kuartal kedua 2026, batas geografis dalam dunia kerja semakin kabur seiring pesatnya digitalisasi. Kolaborasi lintas negara kini menjadi hal lumrah, mulai dari pengembang perangkat lunak di Indonesia yang bekerja untuk perusahaan di Amerika Serikat hingga analis bisnis yang terhubung real-time dengan tim di Asia dan Eropa.
Di tengah ekosistem kerja global yang semakin terbuka ini, kemampuan teknis saja tidak lagi cukup. Bahasa Inggris kini menjadi kompetensi inti yang menentukan daya saing talenta di pasar kerja internasional.
Baca juga:EduTrip UNM Buka Jalan ke Dunia: Kuliah Bisa Jalan-Jalan, Belajar Bisa Internasional
Bahasa Inggris Jadi “Tiket Wajib” Karier Global 2026
Berdasarkan tren Global Remote Work Landscape 2026, lebih dari 75% lowongan kerja remote lintas negara dengan standar gaji global menjadikan kemampuan bahasa Inggris sebagai syarat utama. Hal ini diperkuat oleh berbagai studi yang menunjukkan adanya korelasi kuat antara tingkat kefasihan bahasa Inggris dengan peluang karier dan peningkatan pendapatan.
Menanggapi fenomena ini, Bryan Givan, Kepala Kampus Universitas Nusa Mandiri (UNM) Kampus Jatiwaringin, menegaskan bahwa kemampuan komunikasi global menjadi kunci utama dalam industri saat ini.
“Di era digital, ide brilian yang tidak mampu dikomunikasikan dengan baik akan kehilangan nilai. Bahasa Inggris adalah bahasa pengantar inovasi global. Tanpa itu, talenta akan kesulitan terlibat dalam proyek internasional, memahami riset terbaru, hingga menjalin kerja sama dengan pihak global,” ujarnya, Kamis (7/5).
Menurutnya, industri tidak menuntut kesempurnaan tata bahasa, melainkan kemampuan komunikasi yang efektif, percaya diri, dan responsif. Kemampuan sederhana seperti memberikan respons yang jelas, memahami konteks percakapan, serta menyampaikan ide secara terstruktur menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan dengan klien internasional.
Sebagai Kampus Digital Bisnis, UNM terus berkomitmen mencetak generasi unggul yang siap bersaing di tingkat global. Mengusung semangat “Ubah Mimpi Jadi Prestasi”, kampus ini menghadirkan kurikulum adaptif yang mengintegrasikan kemampuan teknis dan komunikasi internasional.
“Bahasa Inggris kami posisikan sebagai survival skill. Di Universitas Nusa Mandiri Kampus Jatiwaringin, mahasiswa dibiasakan menggunakan bahasa Inggris dalam berbagai aktivitas akademik, mulai dari literatur, coding, hingga simulasi presentasi bisnis agar siap menghadapi lingkungan kerja global,” jelas Bryan.
Ia menambahkan bahwa tujuan utama pendidikan adalah mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga mampu beradaptasi di kancah internasional.
Baca juga:UNM Gaspol Kolaborasi Global dengan Kampus Filipina, Mahasiswa Siap Naik Level Internasional
“Kami ingin lulusan Universitas Nusa Mandiri memiliki mentalitas global. Dengan kombinasi kemampuan teknis dan komunikasi yang kuat, mereka siap mengisi posisi strategis di perusahaan multinasional,” tegasnya.
Di era persaingan global 2026, batas negara bukan lagi pembeda utama. Kompetensi dan kemampuan komunikasi menjadi faktor penentu. Menguasai bahasa Inggris bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan bagi siapa pun yang ingin berkembang dan berkarier di level internasional.
Bagi generasi muda yang ingin menembus pasar global tanpa harus meninggalkan tanah air, memilih lingkungan pendidikan yang mendukung ekosistem internasional menjadi langkah strategis untuk masa depan.









