NusamandiriNews, Jakarta – Kepedulian terhadap isu kesehatan mental dan tumbuh kembang anak mendorong mahasiswa Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis menghadirkan inovasi edukatif berbasis teknologi. Melalui karya bertajuk “MEMORion+: Game Visual Novel Interaktif sebagai Media Psikoedukasi dan Penguatan Identitas bagi Anak Penderita Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)”, tim mahasiswa UNM berhasil meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2026 pada skema PKM Karsa Cipta (PKM-KC).
Tim inovator tersebut diketuai oleh Dini Fitriyah Herti dari Program Studi (prodi) Sains Data, dengan anggota Guntur Surawijaya dari prodi Sains Data, dan dari prodi Informatika ada Rivky Putra Setiawan juga Rizki Rasdiwiyanto. Selama proses penyusunan proposal hingga pengembangan konsep, tim mendapatkan pendampingan dari Taopik Hidayat, sebagai dosen pembimbing.
Baca juga:Mahasiswa UNM Ciptakan Game untuk Anak ADHD, Lolos Pendanaan PKM Nasional 2026
Mahasiswa UNM Bantu Anak ADHD Lewat Inovasi
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Universitas Nusa Mandiri tidak hanya berfokus pada pengembangan teknologi, tetapi juga mampu menghadirkan solusi inovatif untuk menjawab persoalan sosial yang terjadi di masyarakat.
ADHD dipilih sebagai fokus inovasi karena masih banyak anak yang mengalami tantangan dalam memahami diri sendiri, membangun kepercayaan diri, mengelola emosi, hingga beradaptasi dengan lingkungan sosial. Di sisi lain, media psikoedukasi yang interaktif dan ramah anak masih relatif terbatas.
Ketua tim, Dini Fitriyah Herti, menjelaskan bahwa ide MEMORion+ lahir dari keinginan untuk menghadirkan pendekatan edukasi yang lebih dekat dengan kehidupan anak-anak di era digital.
“Anak-anak dengan ADHD sering menghadapi tantangan untuk dipahami oleh lingkungan sekitar. Karena itu, kami ingin menghadirkan media yang membantu mereka mengenali emosi, memahami diri sendiri, dan membangun identitas diri melalui pengalaman yang menyenangkan dan interaktif,” ujar Dini.
Dini menegaskan bahwa MEMORion+ dikembangkan dalam bentuk game visual novel interaktif yang menghadirkan cerita adaptif dengan berbagai pilihan keputusan yang dapat diambil pemain.
“Setiap alur cerita dirancang untuk memberikan pengalaman reflektif sekaligus membantu anak memahami emosi, meningkatkan fokus, serta memperoleh penguatan positif terhadap dirinya,” katanya.
Dalam proses pengembangannya, tim melakukan serangkaian riset terkait karakteristik ADHD, kebutuhan pengguna, desain karakter, hingga penyusunan alur cerita yang edukatif dan mudah dipahami. Pendekatan visual novel dipilih karena mampu membangun keterikatan emosional antara pemain dan karakter dalam cerita, sehingga pesan psikoedukasi dapat tersampaikan lebih efektif.
Dosen pendamping Taopik Hidayat, mengapresiasi semangat dan kolaborasi tim mahasiswa lintas program studi yang berhasil mengubah ide menjadi inovasi yang memperoleh pengakuan di tingkat nasional.
“Mahasiswa tidak hanya dituntut mampu menciptakan teknologi, tetapi juga menghadirkan solusi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. MEMORion+ menjadi contoh bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung pendidikan, kesehatan mental, dan pengembangan karakter anak. Saya bangga dengan kerja keras tim yang berhasil membawa inovasi ini lolos pendanaan PKM 2026,” ungkapnya dalam rilis yang diterima, pada Rabu (3/6).
Sebagai Kampus Digital Bisnis, jelasnya, Universitas Nusa Mandiri terus mendorong lahirnya inovasi mahasiswa yang menggabungkan teknologi, kreativitas, dan kepedulian sosial.
Baca juga:Dosen UNM Antar Mahasiswa Raih Hibah PKM Nasional Lewat Inovasi Game Psikoedukasi ADHD
“Melalui berbagai program pembinaan, riset, dan kompetisi nasional, mahasiswa didorong untuk menghasilkan karya yang mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat,” paparnya.
Ia menambahkan dengan lolosnya pendanaan PKM-KC 2026, tim MEMORion+ akan melanjutkan pengembangan prototipe, penyempurnaan fitur interaktif, serta pengujian sistem agar dapat digunakan secara optimal.
“Tim berharap inovasi ini dapat menjadi media psikoedukasi yang membantu anak-anak ADHD merasa lebih dipahami, dihargai, dan percaya diri dalam menjalani kehidupan sehari-hari,” tutupnya.










