
NusamandiriNews — Gelar sarjana merupakan pencapaian penting dalam perjalanan pendidikan seseorang. Namun, di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat, gelar akademik saja tidak cukup untuk menjamin kesiapan lulusan menghadapi tantangan profesional. Dunia industri membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu memecahkan masalah, berkomunikasi secara efektif, memanfaatkan teknologi, dan beradaptasi terhadap perubahan.
Perkembangan kecerdasan buatan (AI), digitalisasi bisnis, serta perubahan perilaku konsumen telah mengubah cara perusahaan beroperasi. Kompetensi yang dibutuhkan hari ini belum tentu sama dengan kebutuhan beberapa tahun mendatang. Karena itu, perguruan tinggi harus terus mengevaluasi proses pembelajaran agar tetap relevan dengan dinamika industri.
Baca juga: Prodi Bisnis Digital UNM Terapkan Audit Berbasis Risiko Demi Target Unggul
Industri Butuh Kompetensi
Sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Nusa Mandiri (UNM), saya memandang bahwa menyiapkan lulusan yang kompeten bukan sekadar persoalan menyampaikan materi perkuliahan. Pendidikan tinggi harus mampu menghadirkan pengalaman belajar yang menghubungkan pengetahuan akademik dengan persoalan nyata di dunia profesional.
Kampus memiliki tanggung jawab membangun fondasi keilmuan, karakter, etika, dan pola pikir kritis mahasiswa. Sementara itu, industri memiliki pengalaman langsung mengenai kebutuhan pasar, perubahan model bisnis, dan tuntutan kompetensi tenaga kerja. Keduanya perlu membangun kolaborasi yang berkelanjutan, bukan sekadar kerja sama formal yang berhenti pada penandatanganan dokumen.
Kolaborasi tersebut dapat diwujudkan melalui program magang, kuliah praktisi, studi kasus, proyek bisnis, penelitian terapan, hingga pengembangan kewirausahaan. Melalui pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga belajar mengambil keputusan, menghadapi tantangan, dan bertanggung jawab atas hasil pekerjaannya.
Di FEB UNM, Program Studi (prodi) Manajemen dan prodi Bisnis Digital memiliki peran strategis dalam menjawab kebutuhan tersebut. Program Studi Manajemen membekali mahasiswa dengan kompetensi pengelolaan organisasi, pemasaran, keuangan, sumber daya manusia, dan strategi bisnis. Sementara itu, Prodi Bisnis Digital mengarahkan mahasiswa untuk memahami pemanfaatan teknologi dalam pengembangan usaha, pemasaran digital, analisis perilaku konsumen, serta inovasi model bisnis.
Kedua bidang tersebut saling melengkapi. Dunia bisnis tidak hanya membutuhkan orang yang memahami teknologi, tetapi juga individu yang mampu menghubungkan teknologi dengan strategi, kebutuhan konsumen, dan penciptaan nilai ekonomi. Sebaliknya, pemahaman bisnis perlu didukung kemampuan memanfaatkan data dan perangkat digital agar keputusan yang diambil lebih tepat dan relevan.
Sejalan dengan peran UNM sebagai Kampus Digital Bisnis, integrasi antara ilmu bisnis dan teknologi harus menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Mahasiswa perlu dibekali kemampuan berpikir analitis, kreativitas, literasi digital, dan keberanian berinovasi agar mampu menghadapi perubahan, bukan sekadar menjadi pengikut perkembangan zaman.
Salah satu langkah yang mendukung tujuan tersebut adalah program unggulan 3+1, yakni tiga tahun kuliah dan satu tahun magang. Program ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pengalaman profesional yang relevan sebelum menyelesaikan pendidikan. Mereka dapat mengenal budaya kerja, menerapkan pengetahuan akademik, membangun jejaring profesional, sekaligus memahami ekspektasi industri secara langsung.
Namun, saya menilai bahwa keberhasilan program magang tidak boleh hanya diukur dari jumlah mahasiswa yang ditempatkan di perusahaan. Hal yang lebih penting adalah kualitas pengalaman yang diperoleh. Setiap kegiatan magang harus memiliki tujuan pembelajaran yang jelas, pendampingan yang memadai, serta evaluasi yang mengukur perkembangan kompetensi mahasiswa. Kampus dan perusahaan perlu memastikan bahwa mahasiswa benar-benar belajar, bukan sekadar menyelesaikan kewajiban administratif.
Di sisi lain, mahasiswa juga harus menyadari bahwa kesiapan kerja tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada kampus. Mereka perlu mengambil inisiatif untuk membangun portofolio, memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan komunikasi, dan membiasakan diri bekerja secara disiplin. Penguasaan teknologi, termasuk AI, harus disertai kemampuan berpikir kritis, pemahaman etika, dan tanggung jawab dalam penggunaannya.
Bagi saya, tantangan pendidikan tinggi saat ini bukan hanya menghasilkan lulusan sebanyak-banyaknya, melainkan memastikan setiap lulusan memiliki kompetensi yang relevan dan mampu memberikan kontribusi nyata. Dunia kerja membutuhkan individu yang mau terus belajar, terbuka terhadap perubahan, serta mampu menggabungkan pengetahuan dengan tindakan.
Baca juga:Karier Berbasis Data Makin Dicari, Sains Data UNM Kampus Margonda Tawarkan Akreditasi Unggul
Karena itu, kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri harus dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia. Kampus menyediakan fondasi keilmuan dan ruang pengembangan diri, sedangkan industri menghadirkan pengalaman praktis yang memperkaya proses pembelajaran. Ketika keduanya berjalan beriringan, mahasiswa memiliki peluang lebih besar untuk memasuki dunia kerja dengan kesiapan yang lebih baik.
Kampus tidak cukup hanya meluluskan sarjana, sementara industri tidak bisa terus menunggu tenaga kerja yang siap pakai. Keduanya harus bergerak bersama untuk melahirkan generasi yang kompeten, adaptif, dan inovatif. Sebab, masa depan dunia kerja bukan hanya milik mereka yang memiliki gelar, melainkan mereka yang mampu membuktikan kompetensinya.
Penulis: Dr. Ida Zuniarti, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusa Mandiri







