
NusamandiriNews — Dunia pengembangan perangkat lunak sedang mengalami perubahan besar. Jika dahulu kemampuan seorang programmer sering diukur dari penguasaan bahasa pemrograman dan banyaknya baris kode yang mampu ditulis, kini ukurannya semakin luas. Industri membutuhkan talenta digital yang tidak hanya mahir coding, tetapi juga mampu memahami masalah, merancang solusi, bekerja secara kolaboratif, dan menghadirkan produk digital dengan cepat.
Perubahan tersebut mendorong kita untuk melihat kembali cara menyiapkan mahasiswa Informatika menghadapi dunia kerja. Kemampuan teknis tetap penting, tetapi mahasiswa juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan memilih perangkat yang tepat untuk menyelesaikan persoalan nyata.
Baca juga:Program Magister Informatika UNM Jawab Tantangan Disrupsi AI dan Persaingan Sarjana
Jago Coding
Salah satu perkembangan yang menarik perhatian adalah teknologi No-Code/Low-Code. Teknologi ini memungkinkan seseorang membangun aplikasi dengan sedikit atau bahkan tanpa penulisan kode secara manual. Kehadirannya memunculkan pertanyaan, apakah No-Code/Low-Code akan menggantikan peran programmer?
Menurut saya, jawabannya tidak sesederhana itu. Teknologi ini justru membuka peluang lebih luas bagi siapa pun untuk berinovasi. No-Code/Low-Code bukan ancaman bagi programmer yang mau terus belajar, melainkan alat untuk mempercepat proses pengembangan dan pengujian ide.
Melalui teknologi tersebut, mahasiswa dapat mengubah gagasan menjadi prototipe aplikasi dalam waktu relatif singkat. Mereka tidak harus menghabiskan seluruh waktu untuk menulis kode dari awal. Sebaliknya, mereka dapat lebih fokus memahami kebutuhan pengguna, menyusun alur bisnis, menguji fungsi aplikasi, dan mengevaluasi apakah solusi yang dibuat benar-benar menjawab persoalan.
Pengalaman tersebut terlihat dalam workshop Digital Solutions: Membangun Solusi Digital dengan No-Code/Low-Code dan Git yang diselenggarakan Program Studi (prodi) Informatika (S1) Universitas Nusa Mandiri (UNM) pada 5 November 2026. Kegiatan yang menghadirkan praktisi teknologi digital Achmad Zaenuri dari Adinesia.com ini mengajak mahasiswa membangun aplikasi secara langsung melalui pendekatan learning by doing.
Mahasiswa memulai proses dari pemetaan masalah UMKM di sekitar kampus, menyusun flowchart alur bisnis, membuat prototipe menggunakan platform berbasis AI seperti Lovable, hingga melakukan deployment agar aplikasi dapat diakses secara publik. Salah satu contoh proyek yang dikembangkan adalah DapurKampus.
Dari proses tersebut, mahasiswa belajar bahwa membangun aplikasi bukan sekadar membuat tampilan yang menarik atau memastikan tombol dapat berfungsi. Sebuah produk digital harus berangkat dari kebutuhan pengguna. Tanpa pemahaman terhadap masalah yang ingin diselesaikan, teknologi secanggih apa pun berisiko hanya menjadi pajangan.
Ada satu hal yang perlu dipahami: menggunakan platform No-Code/Low-Code bukan berarti mahasiswa boleh mengabaikan dasar-dasar pemrograman. Justru, mereka tetap harus memahami struktur kode yang dihasilkan, mengetahui cara melakukan kustomisasi, serta mampu mengevaluasi kualitas dan keamanan aplikasi.
Di sinilah pentingnya ownership atau kepemilikan terhadap kode. Mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi pengguna platform yang menerima hasil secara otomatis. Mereka harus memahami bagaimana aplikasi bekerja, mengenali keterbatasan teknologi yang digunakan, dan mampu melakukan perbaikan ketika muncul masalah.
Kemampuan berpikir komputasional, logika pemrograman, algoritma, dan rekayasa perangkat lunak tetap menjadi fondasi utama. No-Code/Low-Code hanyalah salah satu pendekatan untuk mempercepat proses, bukan pengganti pemahaman mendasar tentang teknologi.
Selain itu, kecepatan membangun aplikasi harus diimbangi dengan kemampuan mengelola proyek secara profesional. Karena itu, penguasaan Git dan GitHub menjadi kompetensi yang tidak boleh diabaikan mahasiswa Informatika.
Git membantu pengembang mencatat setiap perubahan kode, mengelola versi proyek, serta bekerja bersama anggota tim. Melalui pemahaman proses commit, push, dan pengujian, mahasiswa belajar bahwa pengembangan perangkat lunak merupakan pekerjaan kolaboratif yang membutuhkan keteraturan dan tanggung jawab.
Dalam workshop tersebut, mahasiswa juga diperkenalkan pada pendekatan test-driven development, yaitu menulis pengujian terlebih dahulu sebelum melakukan perubahan kode. Mereka merasakan bagaimana perubahan fitur, termasuk penambahan fitur promo MABA2026, dapat diuji dan diterapkan hingga aplikasi yang telah dipublikasikan ikut mengalami pembaruan.
Pengalaman seperti ini penting karena dunia industri tidak hanya membutuhkan orang yang bisa membuat aplikasi, tetapi juga individu yang mampu bekerja dalam tim, mengelola perubahan, menguji kualitas, dan menjaga keberlanjutan produk digital.
Perkembangan No-Code/Low-Code juga membuka peluang lahirnya citizen developers, yaitu individu yang mampu membangun solusi digital tanpa harus menjadi ahli pemrograman tingkat lanjut. Kemampuan ini relevan bagi startup dan UMKM yang membutuhkan solusi teknologi secara cepat dengan sumber daya terbatas.
Namun, kemampuan membangun aplikasi saja belum cukup. Mahasiswa perlu memahami bagaimana sebuah produk digital dapat memberikan nilai tambah, memiliki pengguna, dan berkembang menjadi solusi yang berkelanjutan.
Mereka juga harus memperhatikan aspek keamanan dan etika. Pengelolaan data pengguna, misalnya, harus dilakukan secara bertanggung jawab dengan memperhatikan ketentuan perlindungan data pribadi yang berlaku. Integrasi pembayaran digital, pengelolaan akses, hingga keamanan informasi harus menjadi bagian dari perencanaan sejak awal, bukan sekadar tambahan setelah aplikasi selesai dibuat.
Sebagai Kampus Digital Bisnis, UNM memiliki komitmen untuk membangun ekosistem pembelajaran yang mendorong mahasiswa tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga mampu menghubungkannya dengan kebutuhan bisnis dan masyarakat. Mahasiswa perlu didorong menjadi pencipta solusi, bukan sekadar pengguna teknologi.
Baca juga:Mahasiswa Informatika UNM Ikuti Magang Mandiri di PT Internet Cipta Rekayasa
Saya selalu berpesan kepada mahasiswa agar tidak berhenti ketika prototipe aplikasi berhasil dibuat. Terus lakukan iterasi, uji produk kepada pengguna nyata, terima masukan, dan perbaiki kekurangan. Pelajari pula batasan platform yang digunakan agar tidak bergantung sepenuhnya pada satu teknologi.
Pada akhirnya, masa depan Informatika bukan hanya tentang siapa yang paling cepat menulis kode, melainkan siapa yang paling mampu menghadirkan solusi yang relevan, aman, dan bermanfaat. Programmer masa depan harus memiliki kombinasi kemampuan teknis, kreativitas, kolaborasi, dan pemahaman terhadap kebutuhan pengguna.
Karena itu, jangan takut terhadap perkembangan No-Code/Low-Code maupun kecerdasan buatan. Jadikan keduanya sebagai alat untuk meningkatkan kemampuan dan memperluas ruang inovasi. Jangan hanya menjadi pengguna teknologi. Jadilah pencipta solusi digital yang mampu menjawab tantangan zaman.
Penulis: Arfhan Prasetyo, Ketua Program Studi Informatika (S1) Universitas Nusa Mandiri







