
NusamandiriNews — Di tengah derasnya arus konten digital, banyak orang masih percaya bahwa kesuksesan bisnis ditentukan oleh seberapa sering sebuah produk muncul di media sosial. Semakin viral, semakin dianggap berhasil. Padahal, viral hanyalah pintu masuk. Yang menentukan apakah sebuah bisnis akan bertahan atau tenggelam adalah strategi.
Sering saya temui ketika berdiskusi dengan mahasiswa yang sedang membangun usaha rintisan. Mereka begitu bersemangat membuat konten, mengikuti tren, bahkan berlomba mengejar jumlah tayangan. Namun, ketika ditanya siapa target konsumennya, bagaimana strategi konversi penjualannya, atau bagaimana mengukur efektivitas kampanye digital yang dilakukan, jawabannya sering kali belum jelas.
Bangun Bisnis yang Bertahan
Di sinilah persoalan sebenarnya. Media sosial bukan sekadar ruang hiburan, melainkan ekosistem bisnis yang menuntut perencanaan, analisis, kreativitas, dan konsistensi. Konten yang menarik memang penting, tetapi strategi yang tepat jauh lebih menentukan keberhasilan sebuah brand dalam jangka panjang.
Sebagai Kepala Nusa Mandiri Entrepreneur Center (NEC) dan Nusa Mandiri Startup Center (NSC), saya melihat bahwa generasi muda Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk menjadi pelaku usaha digital. Mereka kreatif, adaptif terhadap teknologi, dan cepat memanfaatkan berbagai platform digital. Namun, potensi tersebut perlu diarahkan agar tidak berhenti pada sekadar membuat konten yang ramai diperbincangkan.
Sebuah bisnis yang sehat harus dibangun di atas fondasi yang kuat. Fondasi itu dimulai dari memahami siapa pelanggan yang ingin dilayani, masalah apa yang ingin diselesaikan, dan nilai apa yang ingin diberikan kepada masyarakat. Setelah itu, barulah media sosial menjadi alat untuk menyampaikan nilai tersebut secara efektif.
Membangun tim yang memiliki peran jelas, melakukan riset pasar, menentukan niche yang tepat, memilih platform sesuai karakter audiens, menyusun content planner, hingga melakukan evaluasi secara berkala merupakan proses yang tidak boleh diabaikan.
Sayangnya, banyak pelaku usaha muda justru membalik proses tersebut. Mereka lebih dulu membuat konten, kemudian berharap pasar datang dengan sendirinya. Akibatnya, energi habis untuk mengejar algoritma, sementara bisnis tidak mengalami pertumbuhan yang signifikan.
Era ekonomi digital telah mengubah cara konsumen mengambil keputusan. Mereka tidak hanya membeli produk, tetapi juga membeli cerita, kepercayaan, pengalaman, dan hubungan emosional yang dibangun oleh sebuah merek. Karena itu, strategi social media marketing tidak boleh lagi dipahami sebagai aktivitas mengunggah foto atau video semata. Ia harus menjadi bagian dari strategi bisnis secara menyeluruh.
Sebagai Universitas Nusa Mandiri (UNM), Kampus Digital Bisnis, kami memandang bahwa kemampuan digital marketing kini bukan lagi keterampilan tambahan, melainkan kompetensi utama yang harus dimiliki mahasiswa, terutama mereka yang ingin menjadi entrepreneur.
Inilah alasan mengapa Universitas Nusa Mandiri terus menghadirkan berbagai program pembinaan kewirausahaan melalui Nusa Mandiri Entrepreneur Center dan Nusa Mandiri Startup Center. Kami ingin mahasiswa tidak hanya mampu menghasilkan produk inovatif, tetapi juga memahami bagaimana membangun branding, membaca perilaku pasar, memanfaatkan teknologi digital, hingga melakukan evaluasi berbasis data.
Mahasiswa harus dibiasakan berpikir layaknya seorang entrepreneur sejak masih berada di bangku kuliah. Mereka perlu belajar bahwa setiap konten memiliki tujuan, setiap strategi harus memiliki indikator keberhasilan, dan setiap keputusan bisnis harus didasarkan pada data, bukan sekadar intuisi.
Di tengah persaingan yang semakin ketat, kemampuan memanfaatkan media sosial secara strategis akan menjadi pembeda antara bisnis yang hanya sesaat dikenal dengan bisnis yang mampu bertahan dan terus berkembang.
Saya meyakini, masa depan ekonomi Indonesia akan banyak ditentukan oleh lahirnya entrepreneur muda yang tidak hanya kreatif, tetapi juga memiliki kemampuan manajerial, literasi digital, dan keberanian untuk terus berinovasi. Mereka tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, melainkan harus mampu menjadikan teknologi sebagai mesin pertumbuhan bisnis.
Karena itu, saya mengajak para siswa SMA/SMK, mahasiswa, maupun generasi muda yang memiliki mimpi membangun usaha sendiri untuk mulai mempersiapkan diri sejak sekarang. Belajarlah membangun strategi, bukan sekadar mengejar popularitas. Jadilah entrepreneur yang mampu menciptakan nilai, membuka lapangan pekerjaan, dan menghadirkan solusi bagi masyarakat melalui inovasi digital.
Sebab pada akhirnya, bisnis yang besar tidak dibangun oleh konten yang viral sesaat, melainkan oleh strategi yang dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan.
Informasi dan pendaftaran mahasiswa baru dapat dilakukan secara online melalui https://pmb.nusamandiri.ac.id. Informasi resmi mengenai Universitas Nusa Mandiri dapat diakses di https://nusamandiri.ac.id/.
Penulis: Fitra Septia Nugraha, Kepala Nusa Mandiri Entrepreneur Center (NEC) dan Nusa Mandiri Startup Center (NSC), Universitas Nusa Mandiri.








