NusamandiriNews, Jakarta — Tren AI Healthcare global 2026 diproyeksikan semakin masif, dengan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk diagnosis berbasis citra, analisis data pasien, hingga sistem pendukung keputusan medis. Di tengah lonjakan kebutuhan talenta digital tersebut, Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis mendorong mahasiswa Program Studi (prodi) Informatika S1, Fakultas Teknologi Informasi (FTI) mengembangkan riset semantic segmentation untuk analisis citra medis tradisional, seperti citra lidah.
Semantic segmentation merupakan teknologi computer vision yang mampu memetakan bagian-bagian citra secara detail dan terstruktur. Dalam konteks medis tradisional, metode ini dapat memisahkan area penting pada lidah berdasarkan warna, tekstur, dan pola permukaan, sehingga observasi visual yang sebelumnya subjektif menjadi lebih objektif dan berbasis data.
Baca juga:AI Masuk Dunia Medis Tradisional! Prodi Informatika UNM Siap Kembangkan Riset Citra Kesehatan
Prodi Informatika UNM Bidik Karier Global
Ketua Prodi Informatika UNM, Arfhan Prasetyo, menjelaskan bahwa pengembangan riset ini bukan hanya soal inovasi teknologi, tetapi juga kesiapan menghadapi tren industri global.
“AI di bidang kesehatan menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat secara global pada 2026. Mahasiswa perlu menangkap peluang ini dengan membangun kompetensi di computer vision, machine learning, dan data visual analytics. Riset seperti semantic segmentation menjadi pintu masuk menuju karier AI Healthcare,” ujarnya dalam rilis yang diterima, pada Kamis (26/2).
Ia menjelaskan bahwa secara global, AI Healthcare berkembang pada sistem deteksi dini penyakit berbasis citra, analisis radiologi otomatis, hingga integrasi wearable device dengan algoritma kecerdasan buatan. Kebutuhan talenta di bidang AI Engineer, Computer Vision Engineer, Data Scientist Healthcare, hingga AI Researcher diperkirakan terus meningkat.
“FTI Universitas Nusa Mandiri memposisikan riset analisis citra lidah berbasis AI sebagai laboratorium pembelajaran nyata bagi mahasiswa. Mereka tidak hanya mempelajari teori machine learning, tetapi juga memahami tahapan image processing, data labeling, pelatihan model, validasi, hingga interpretasi hasil berbasis evidence,” jelasnya.
Selain aspek teknis, kata Arfhan, mahasiswa juga dibekali pemahaman etika pengolahan data medis serta tanggung jawab akademik dalam membangun model AI yang kredibel dan teruji.
Baca juga:Mau Jadi Doktor atau Sekadar Wacana? Open House S3 Informatika UNM 2026 Buka Jalan, Daftar Sekarang!
“Pengembangan sistem analisis citra medis tradisional berbasis semantic segmentation berpotensi menjadi inovasi unggulan yang aplikatif sekaligus membuka akses mahasiswa pada ekosistem riset kesehatan digital global,” ungkapnya.
Ia menambahkan sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri terus membangun ekosistem riset adaptif yang menghubungkan teknologi, kesehatan, dan kebutuhan industri masa depan.
“Integrasi AI dan medis tradisional ini bukan hanya inovasi akademik, tetapi juga langkah strategis menyiapkan lulusan yang kompeten, profesional, dan siap bersaing di pasar kerja global 2026,” tutupnya.










