
NusamandiriNews — Membangun kota cerdas tidak cukup hanya dengan memasang sensor, menyediakan aplikasi layanan publik, atau menghadirkan berbagai perangkat digital. Tanpa kemampuan mengolah dan menganalisis data, teknologi tersebut hanya akan menjadi infrastruktur yang belum tentu mampu menyelesaikan persoalan masyarakat.
Inilah tantangan sesungguhnya dalam mewujudkan Smart City. Kota modern membutuhkan keputusan yang cepat, akurat, dan berbasis data. Mulai dari pengelolaan tata ruang, pemantauan perubahan lingkungan, mitigasi bencana, hingga perencanaan infrastruktur, semuanya membutuhkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Baca juga:Cloud Computing Jadi Masa Depan, Talenta Informatika Diburu!
Smart City Butuh Data
Saya melihat, salah satu sumber informasi yang memiliki potensi besar untuk mendukung kebutuhan tersebut adalah data geospasial yang diperoleh melalui citra satelit dan drone. Data ini bukan sekadar kumpulan gambar dari udara, melainkan sumber informasi yang dapat membantu manusia memahami kondisi wilayah secara lebih menyeluruh.
Namun, tantangannya tidak sederhana. Data citra satelit dan drone memiliki volume besar, karakteristik beragam, serta membutuhkan teknologi khusus untuk mengolahnya. Karena itu, integrasi teknologi geospasial, Big Data, dan kecerdasan buatan (AI) menjadi kompetensi penting bagi generasi muda, khususnya mahasiswa Informatika.
Selama ini, sebagian orang mungkin melihat citra satelit dan drone hanya sebagai media visual untuk memantau suatu wilayah. Padahal, di balik gambar tersebut terdapat informasi penting yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.
Dalam bidang kebencanaan, misalnya, citra satelit dapat membantu memantau perubahan kondisi wilayah dan mengidentifikasi area terdampak bencana. Sementara itu, teknologi drone dapat digunakan untuk memperoleh gambaran wilayah secara lebih detail. Informasi tersebut dapat menjadi bahan pendukung bagi pihak terkait dalam menentukan langkah penanganan.
Begitu pula dalam perencanaan kota. Data geospasial dapat dimanfaatkan untuk memantau perubahan penggunaan lahan, mengidentifikasi perkembangan kawasan, serta mendukung perencanaan infrastruktur yang lebih terarah.
Akan tetapi, informasi tersebut tidak dapat dimanfaatkan secara optimal apabila hanya disimpan sebagai kumpulan gambar. Dibutuhkan sistem yang mampu mengelola, mengintegrasikan, menganalisis, dan menyajikan data dalam bentuk informasi yang mudah dipahami.
Di sinilah peran arsitektur Big Data. Teknologi ini memungkinkan pengelolaan data dalam jumlah besar sehingga informasi dari berbagai sumber dapat diproses untuk mendukung analisis dan pengambilan keputusan.
Perkembangan AI semakin memperluas pemanfaatan data geospasial. Melalui pendekatan Deep Learning, sistem komputer dapat dilatih untuk mengenali pola tertentu pada citra satelit maupun drone.
Teknologi tersebut berpotensi digunakan untuk mendeteksi perubahan penggunaan lahan, mengidentifikasi kerusakan infrastruktur, memantau perkembangan kawasan, hingga membantu analisis kondisi wilayah setelah bencana.
Bayangkan ketika pemerintah membutuhkan informasi mengenai perubahan suatu kawasan dalam waktu singkat. Proses yang sebelumnya membutuhkan pengamatan manual dapat dibantu melalui sistem analisis citra berbasis AI. Hasilnya dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan prioritas penanganan.
Meski demikian, penggunaan AI tidak boleh dilakukan tanpa pengawasan. Hasil analisis tetap perlu divalidasi karena kualitas citra, kondisi geografis, metode pemrosesan, dan karakteristik data dapat memengaruhi akurasi informasi.
Selain itu, aspek keamanan data, privasi, dan etika pemanfaatan teknologi harus menjadi perhatian. Kota cerdas bukan hanya kota yang mampu mengumpulkan banyak data, tetapi juga kota yang mampu mengelola data secara bertanggung jawab.
Perkembangan teknologi geospasial dan Big Data menunjukkan bahwa kompetensi seorang lulusan Informatika tidak boleh berhenti pada kemampuan menulis kode program. Dunia industri membutuhkan talenta yang mampu memahami persoalan, merancang arsitektur sistem, mengintegrasikan teknologi, serta menghasilkan solusi yang memberikan manfaat nyata.
Mahasiswa perlu memperluas wawasan melalui berbagai bidang, seperti pengolahan citra digital, Artificial Intelligence, Machine Learning, Deep Learning, basis data, komputasi awan, dan visualisasi data.
Mereka juga perlu memahami bahwa setiap teknologi memiliki konteks penerapan. Membuat aplikasi bukan sekadar memastikan program berjalan, tetapi juga memastikan solusi yang dikembangkan benar-benar menjawab kebutuhan pengguna.
Karena itu, pembelajaran Informatika harus terus dihubungkan dengan persoalan nyata di masyarakat dan perkembangan industri. Mahasiswa perlu memperoleh pengalaman melalui praktikum, proyek, workshop, riset, serta kolaborasi dengan praktisi dan peneliti.
Salah satu upaya untuk membangun kompetensi tersebut diwujudkan melalui workshop GeoSmart: Membangun Platform Web Analisis Citra Satelit & Drone untuk Smart City dengan Arsitektur Big Data yang dilaksanakan pada 4 November 2026.
Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memahami integrasi teknologi geospasial dengan arsitektur Big Data. Tidak hanya mempelajari karakteristik citra penginderaan jauh, peserta juga memperoleh pengalaman melalui simulasi pengembangan platform web dan eksplorasi pemanfaatan Deep Learning untuk analisis citra.
Kehadiran Dr. Sesa Wiguna, peneliti dari BNPB dan Tohoku University Jepang, turut memberikan perspektif mengenai penerapan teknologi geospasial dalam mitigasi bencana dan pemetaan risiko. Kolaborasi dengan praktisi dan peneliti seperti ini penting agar mahasiswa memperoleh wawasan yang tidak hanya bersumber dari teori, tetapi juga dari pengalaman penerapan teknologi di lapangan.
Sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri (UNM) berkomitmen menghadirkan ekosistem pembelajaran yang relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri. Program Studi (prodi) Informatika (S1) terus mendorong mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan teknis, berpikir kritis, dan berinovasi dalam menciptakan solusi digital.
Saya percaya, masa depan teknologi tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih perangkat yang kita gunakan, tetapi juga oleh kemampuan manusia dalam memanfaatkannya untuk menyelesaikan persoalan.
Teknologi geospasial, AI, dan Big Data memiliki peluang besar untuk mendukung pembangunan Indonesia. Namun, peluang tersebut membutuhkan sumber daya manusia yang mampu menguasai teknologi sekaligus memahami dampak sosial dari penerapannya.
Baca juga:Program Magister Informatika UNM Jawab Tantangan Disrupsi AI dan Persaingan Sarjana
Karena itu, saya mengajak mahasiswa Informatika untuk tidak membatasi diri pada materi yang diperoleh di ruang kuliah. Teruslah bereksplorasi, bangun portofolio, ikuti perkembangan riset, dan berani mengembangkan proyek teknologi yang memiliki manfaat bagi masyarakat.
Jadilah talenta digital yang tidak hanya mahir coding, tetapi juga mampu membaca persoalan, memahami data, dan merancang solusi. Sebab, Indonesia tidak hanya membutuhkan pengguna teknologi, tetapi juga pencipta inovasi yang mampu membawa perubahan.
Melalui semangat Ubah Mimpi Jadi Prestasi, UNM sebagai Kampus Digital Bisnis terus mendorong lahirnya generasi inovator yang siap menghadapi tantangan transformasi digital. Jangan hanya menjadi pengguna teknologi. Jadilah arsitek masa depan kota cerdas Indonesia!
Penulis: Arfhan Prasetyo, Ketua Program Studi Informatika (S1) Universitas Nusa Mandiri







