
NusamandiriNews, Jakarta – Tim peneliti Universitas Nusa Mandiri (UNM) memaparkan hasil inovasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) NutriExplain dalam Monitoring dan Evaluasi Internal Laporan Kemajuan Hibah DPPM Kemdiktisaintek Tahun 2026. Kegiatan evaluasi yang diselenggarakan oleh LPPM UNM tersebut membedah penerapan Explainable Machine Learning untuk klasifikasi status gizi dan analisis faktor risiko stunting balita.
Inovasi NutriExplain dikembangkan melalui skema Penelitian Dosen Pemula (PDP) dengan memanfaatkan model Random Forest dan analisis SHAP. Hasil pengujian menunjukkan model ini mampu mengklasifikasikan status stunted dan not stunted dengan akurasi mencapai 96,00 persen, serta mengidentifikasi tinggi dan usia badan sebagai faktor paling berpengaruh.
Baca juga:Kembangkan AI Deteksi Kanker Serviks, Tim Peneliti UNM Gelar Monev Hibah
Tim Peneliti Universitas Nusa Mandiri Analisis Faktor Stunting Balita
Ketua Tim Peneliti UNM, Siti Nurhasanah Nugraha, menjelaskan keunggulan sistem yang digagas bersama anggotanya, Evita Fitri, Muji Ernawati, dan Tri Wahyu Lestari.
“Melalui NutriExplain, kami tidak hanya menghadirkan AI yang mampu mengklasifikasikan status gizi secara presisi, tetapi juga memberikan transparansi mengenai faktor utama penyebab stunting pada balita. Kami berharap pendekatan ini dapat membantu tenaga kesehatan dalam mengintervensi risiko stunting secara lebih tepat,” katanya dalam rilis yang diterima, pada Jumat (2/10).
Baca juga:Stunting Masih Jadi Ancaman? Dosen UNM Justru Lawan Pakai AI
Ia menegaskan bahwa artikel ilmiah hasil penelitian tersebut saat ini telah didaftarkan ke jurnal terakreditasi SINTA 4 dan sedang memasuki proses pendaftaran Hak Cipta.
“Melalui riset ini, Universitas Nusa Mandiri sebagai Kampus Digital Bisnis menegaskan komitmennya dalam memanfaatkan teknologi AI secara nyata untuk menyelesaikan tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia,” paparnya.







