NusamandiriNews, Jakarta–Memasuki pertengahan tahun 2026, pola rekrutmen di industri teknologi global mengalami perubahan besar. Jika sebelumnya nilai akademik dan ijazah menjadi tolok ukur utama, kini perusahaan lebih fokus pada bukti nyata kemampuan kandidat melalui portofolio projek digital yang pernah dikerjakan.
Perusahaan teknologi multinasional, startup unicorn, hingga korporasi yang tengah menjalankan transformasi digital kini menerapkan sistem evidence-based hiring. Mereka tidak lagi hanya bertanya tentang apa yang dipelajari mahasiswa selama kuliah, tetapi lebih tertarik melihat aplikasi, sistem, atau produk digital yang berhasil dibangun kandidat secara langsung.
Baca juga:Lulusan Bisnis Digital UNM Tembus Industri Kreatif, Saatnya Kuliah yang Diburu Perusahaan
Portofolio Projek Jadi Tiket Karir Global
Berdasarkan laporan Global Tech Talent Trends 2026, sebanyak 85% perekrut di sektor teknologi lebih memprioritaskan repositori kode seperti GitHub, prototipe aplikasi, dan dokumentasi projek dibanding sekadar ijazah formal. Di tengah kebutuhan industri yang bergerak cepat, kandidat dengan portofolio kuat dinilai lebih siap bekerja dan mampu beradaptasi sejak hari pertama.
Menanggapi fenomena tersebut, Bryan Givan selaku Kepala Kampus Universitas Nusa Mandiri (UNM) Kampus Jatiwaringin menilai bahwa pendidikan tinggi harus mampu menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan industri nyata.
“Portofolio adalah bukti konkret kemampuan mahasiswa dalam menyelesaikan masalah. Industri saat ini merekrut karya nyata, bukan sekadar teori. Karena itu, pengalaman belajar di laboratorium kampus harus dirancang sedekat mungkin dengan kondisi industri sebenarnya agar mahasiswa terbiasa menghadapi tantangan riil,” ujar Bryan, Jumat (8/5).
Sebagai bentuk komitmen mencetak talenta digital unggul, UNM sebagai Kampus Digital Bisnis terus mengembangkan sistem pembelajaran berbasis Project-Based Learning dengan semangat “Ubah Mimpi Jadi Prestasi.”
Melalui Program Studi S1 Informatika, mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga aktif membangun projek digital mulai dari pengembangan perangkat lunak, desain basis data, hingga perancangan antarmuka aplikasi interaktif. Setiap mata kuliah diarahkan menghasilkan karya yang dapat menjadi bagian dari portofolio profesional mahasiswa.
“Di Universitas Nusa Mandiri Kampus Jatiwaringin, mahasiswa kami dibiasakan membangun jejak digital profesional sejak semester awal. Setiap projek yang mereka kerjakan menjadi aset penting yang akan membuka peluang karir lebih luas, baik di perusahaan nasional maupun multinasional,” jelas Bryan.
Menurutnya, perkembangan sistem kerja remote turut membuka peluang besar bagi talenta digital Indonesia untuk berkarir secara global. Saat ini, banyak perusahaan luar negeri merekrut programmer, system analyst, hingga software engineer dari Indonesia tanpa mengharuskan mereka pindah negara.
Baca juga:Cari Kampus Nyaman dan Biaya Terjangkau? FEB UNM Jawaban Kuliah Era Digital
“Karya berbicara lebih kuat daripada kata-kata. Ketika mahasiswa memiliki rekam jejak projek yang solid, mereka akan lebih mudah membuktikan kualitasnya di hadapan industri global. Kampus harus menjadi tempat mahasiswa membangun kesiapan profesional sejak dini,” tambahnya.
Di era digital yang kompetitif, membangun karir tidak cukup hanya mengandalkan hafalan teori maupun gelar akademik. Calon mahasiswa perlu memilih perguruan tinggi yang mampu memfasilitasi pengembangan skill praktis sekaligus pembentukan portofolio profesional yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini.
UNM hadir sebagai pilihan strategis bagi generasi muda yang ingin meniti karir di industri teknologi global melalui pengalaman belajar berbasis projek nyata dan ekosistem digital yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Bagi calon mahasiswa yang ingin mulai membangun karir digital sejak bangku kuliah, pendaftaran dapat dilakukan secara online melalui laman resmi PMB Universitas Nusa Mandiri di https://pmb.nusamandiri.ac.id/.









