NusamandiriNews — Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, ada satu fakta yang semakin sulit dibantah: dunia industri kini tidak lagi hanya melihat ijazah atau nilai akademik. Perusahaan teknologi lebih tertarik pada satu pertanyaan sederhana, “Apa yang sudah pernah Anda buat?”
Perubahan cara pandang industri ini menjadi sinyal penting bagi generasi muda yang sedang menentukan pilihan kuliah. Banyak calon mahasiswa masih menganggap perkuliahan sebagai proses mengumpulkan nilai hingga akhirnya mendapatkan gelar. Padahal, di era ekonomi digital, gelar hanyalah tiket masuk. Yang menentukan daya saing sesungguhnya adalah kemampuan dan portofolio yang berhasil dibangun selama masa kuliah.
Baca juga:Takut Digantikan AI? Informatika UNM, Siapkan Mahasiswa Jadi Pengendali Teknologi!
Kuliah Jangan Cari Nilai
Sebagai Ketua Program Studi Informatika (S1) Universitas Nusa Mandiri (UNM), saya melihat bahwa tantangan terbesar pendidikan tinggi saat ini bukan sekadar menghasilkan lulusan yang memahami teori, tetapi mencetak talenta digital yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat dan industri.
Karena itu, pembelajaran Informatika tidak boleh berhenti di ruang kelas. Mahasiswa perlu dibiasakan menghadapi permasalahan riil, bekerja dalam tim, memahami kebutuhan pengguna, hingga menyelesaikan proyek yang memiliki dampak nyata. Pengalaman tersebut tidak bisa diperoleh hanya dari membaca buku atau mendengarkan kuliah di kelas.
Di Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis, pendekatan pembelajaran berbasis proyek menjadi bagian penting dalam proses pendidikan. Mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep pemrograman, kecerdasan buatan, pengembangan aplikasi, maupun rekayasa perangkat lunak secara teoritis, tetapi juga terlibat dalam proyek yang relevan dengan kebutuhan industri.
Kolaborasi dengan berbagai mitra industri teknologi memungkinkan mahasiswa merasakan langsung bagaimana sebuah solusi digital dirancang, dikembangkan, dan diimplementasikan. Mereka belajar memahami kebutuhan klien, mengelola target pekerjaan, berkomunikasi secara profesional, hingga menghadapi dinamika yang lazim terjadi di dunia kerja.
Menurut saya, pengalaman seperti inilah yang membedakan lulusan yang siap kerja dengan lulusan yang masih membutuhkan waktu panjang untuk beradaptasi.
Saat ini, banyak perusahaan lebih tertarik melihat rekam jejak proyek dibandingkan sekadar daftar mata kuliah yang pernah ditempuh. Portofolio menjadi bukti konkret bahwa seseorang mampu menerapkan ilmu yang dimiliki untuk menyelesaikan masalah. Karena itu, mahasiswa perlu mulai membangun portofolio sejak semester awal, bukan menjelang wisuda.
Portofolio tidak harus selalu berupa proyek besar. Sebuah aplikasi sederhana, sistem informasi skala kecil, website, dashboard analitik, atau hasil hackathon dapat menjadi bukti kemampuan yang sangat berharga jika dikerjakan secara konsisten dan terdokumentasi dengan baik.
Selain keterampilan teknis, pembelajaran berbasis proyek juga membentuk kemampuan yang semakin dibutuhkan industri, seperti berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan. Kompetensi inilah yang menjadi pembeda utama di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat.
Saya meyakini bahwa masa depan industri teknologi akan dimenangkan oleh mereka yang memiliki kombinasi antara pengetahuan, pengalaman, dan rekam jejak karya yang terukur.
Oleh karena itu, mahasiswa perlu mengubah cara pandang terhadap kuliah. Jangan hanya fokus mengejar angka di transkrip, tetapi fokuslah membangun pengalaman dan karya yang bisa dibuktikan.
Baca juga:AI Bukan Ancaman, Saatnya Mahasiswa Informatika Jadi Pencipta Inovasi
Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menciptakan ekosistem yang mendukung lahirnya talenta-talenta digital tersebut. Kampus harus menjadi tempat mahasiswa belajar, bereksperimen, gagal, memperbaiki diri, lalu tumbuh menjadi profesional yang siap memberikan kontribusi.
Pada akhirnya, dunia kerja tidak hanya mencari lulusan yang pintar menjawab soal ujian. Dunia kerja membutuhkan individu yang mampu menciptakan solusi. Karena itu, bagi generasi muda yang ingin berkarier di bidang teknologi, mulailah berpikir seperti profesional sejak bangku kuliah.
Bangun portofolio, cari pengalaman, terlibat dalam proyek nyata, dan jadikan setiap tantangan sebagai kesempatan belajar. Sebab di era digital saat ini, karya nyata akan berbicara lebih keras daripada sekadar nilai di atas kertas.
Penulis: Arfhan Prasetyo, Ketua Program Studi Informatika (S1) Universitas Nusa Mandiri










