NusamandiriNews, Jakarta–Di era digital, dunia kerja mengalami perubahan signifikan yang menuntut lebih dari sekadar pencapaian akademik. Bagi generasi Z, khususnya mahasiswa dan lulusan baru, keterampilan praktis kini menjadi faktor utama dalam menentukan keberhasilan karier. Perusahaan modern tidak lagi hanya melihat Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), tetapi juga kemampuan adaptasi, penguasaan teknologi, serta kreativitas.
Tren ini sejalan dengan laporan World Economic Forum 2025 yang menyebutkan bahwa sekitar 75 persen perusahaan lebih memprioritaskan kemampuan teknis dan soft skill dibandingkan gelar atau IPK semata. Keterampilan seperti analisis data, digital marketing, pemrograman, hingga kemampuan bekerja dalam tim menjadi kebutuhan utama di berbagai sektor industri.
Baca juga:Bukan Cuma IPK, Personal Branding Kini Jadi Senjata Wajib Mahasiswa di Era Digital 2026
IPK Tinggi Tak Lagi Jadi Penentu
Menurut Bryan Givan, Kepala Kampus Universitas Nusa Mandiri (UNM) Kampus Jatiwaringin, mahasiswa generasi Z perlu mengubah pola pikir dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.
“IPK memang penting sebagai fondasi akademik, tetapi keterampilan praktis yang relevan dengan industri akan membuat mahasiswa lebih unggul dan siap bersaing,” ujarnya, Senin (20/4).
Ia menegaskan bahwa kemampuan teknologi, analisis data, serta kreativitas merupakan kunci utama di tengah pesatnya transformasi digital. Mahasiswa pun didorong untuk aktif mengembangkan diri melalui berbagai pengalaman nyata.
“Kesempatan belajar di kampus harus dimanfaatkan untuk membangun skill, baik melalui proyek, magang, organisasi, maupun kompetisi,” tambahnya.
Sebagai Kampus Digital Bisnis, UNM menghadirkan pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan industri. Program Studi Manajemen membekali mahasiswa dengan keterampilan manajerial, pemasaran digital, dan kewirausahaan. Sementara itu, Program Studi Sains Data dan Informatika fokus pada penguasaan analisis data, pemrograman, serta teknologi digital yang relevan dengan dunia kerja modern.
Bryan juga menambahkan bahwa pengalaman praktis menjadi nilai tambah yang signifikan bagi lulusan.
“Mahasiswa yang memiliki pengalaman proyek dan magang akan lebih siap menghadapi tantangan kerja. Ini menjadi keunggulan kompetitif di era ekonomi digital,” jelasnya.
Data industri di Indonesia turut memperkuat fenomena ini. Survei LinkedIn Workforce Report 2025 menunjukkan bahwa perusahaan digital lebih mencari kandidat dengan kemampuan analisis data, digital marketing, manajemen proyek, serta penguasaan perangkat lunak industri. Sementara itu, perbedaan IPK cenderung menjadi faktor sekunder dalam proses rekrutmen.
Baca juga:Bukan Sekadar CV, Personal Branding Jadi Kunci Karier Mahasiswa di Era Digital
Sebagai institusi pendidikan yang fokus pada pengembangan talenta digital, UNM terus berkomitmen mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan praktis yang siap digunakan di dunia kerja.
UNM dikenal sebagai Kampus Digital Bisnis yang berkomitmen mencetak generasi muda adaptif, kompetitif, dan siap bersaing secara global di tengah perubahan industri yang dinamis.
Dengan fokus pada penguasaan skill yang relevan, generasi Z diharapkan tidak hanya menjadi lulusan dengan gelar, tetapi juga mampu membangun karier yang sukses dan berkelanjutan di era digital.









