NusamandiriNews, Jakarta–Pergeseran pola karier generasi muda kian nyata. Jika sebelumnya lulusan perguruan tinggi identik sebagai pencari kerja, kini Generasi Z (Gen Z) justru berlomba menjadi pencipta lapangan kerja melalui startup berbasis teknologi. Survei ketenagakerjaan global awal 2026 mencatat, lebih dari 55 persen Gen Z memiliki aspirasi membangun bisnis sendiri dibanding bekerja di perusahaan konvensional.
Fenomena ini juga tercermin di lingkungan Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis dengan tagline “Ubah Mimpi Jadi Prestasi”, khususnya di Kampus Jatiwaringin, Jakarta. Mahasiswa tidak lagi sekadar fokus pada teori, tetapi aktif mengeksekusi ide bisnis sejak di bangku kuliah. Berbagai inisiatif startup bermunculan, mulai dari layanan web development untuk digitalisasi UMKM hingga agensi kreatif di sektor konten digital dan e-sports.
Baca juga: Mahasiswa Jangan Hanya Cari Kerja Ciptakan Usaha Sejak Kuliah
Gen Z Beralih Jadi Pencipta Kerja
Namun, tingginya minat berwirausaha juga diiringi tantangan. Banyak startup rintisan gagal berkembang akibat minimnya pendampingan, lemahnya strategi bisnis, serta kurangnya ekosistem yang mendukung pertumbuhan usaha secara berkelanjutan.
Kepala Kampus UNM Kampus Jatiwaringin, Bryan Givan, menegaskan pentingnya transformasi peran perguruan tinggi dalam menjawab dinamika tersebut.
“Perguruan tinggi tidak bisa lagi hanya mencetak lulusan pencari kerja. Kita harus menciptakan job creator. Ide bisnis mahasiswa harus diuji, divalidasi, bahkan mengalami kegagalan sejak masih dalam lingkungan kampus agar mereka siap menghadapi realitas industri,” ujarnya, Kamis (30/4).
Sebagai bentuk komitmen, Universitas Nusa Mandiri menghadirkan ekosistem kewirausahaan terintegrasi melalui program inkubator bisnis dan kegiatan Entrepreneur Fair. Dalam program ini, mahasiswa mendapatkan kesempatan melakukan pitching ide bisnis di hadapan mentor dan praktisi industri, sekaligus mengembangkan produk hingga siap masuk pasar.
Kurikulum kewirausahaan yang diterapkan juga berorientasi praktis, mencakup penyusunan business plan, analisis pasar, strategi kompetitif, hingga perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Kolaborasi lintas program studi seperti Bisnis Digital, Sistem Informasi, dan Sains Data turut memperkuat fondasi startup yang dibangun mahasiswa.
Baca juga:UNM Perkuat Sertifikasi Profesi Berbasis Industri, Cetak Lulusan Siap Kerja dan Berdaya Saing Global
“Kami memastikan pembelajaran kewirausahaan tidak berhenti pada teori. Mahasiswa didorong membangun bisnis nyata dengan dukungan mentor, fasilitas, dan jaringan industri. Inilah yang membedakan Universitas Nusa Mandiri sebagai Kampus Digital Bisnis,” tambah Bryan.
Dengan ekosistem yang kondusif, mahasiswa tidak hanya belajar, tetapi juga membangun masa depan sejak dini. Hobi dan proyek sampingan pun berpotensi berkembang menjadi bisnis berkelanjutan bahkan perusahaan rintisan berskala besar.









